AIPI berharap capres berani kedepankan keputusan ilmiah

id akademi ilmu pengetahuan indonesia,Satryo brodjonegoro

Logo Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) (Foto: aipi.or.id)

Jakarta, (ANTARA News) - Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Satryo S Brodjonegoro berharap calon presiden dan wakil presiden pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 hendaknya memiliki karakter yang berani mengedepankan keputusan ilmiah dibanding semata-mata berdasarkan pertimbangan politis. 

"Jadi pemimpin yang berani membuat keputusan kalau mungkin secara politis,  itu mungkin tidak terlalu menguntungkan  tapi kalau secara scientific (ilmiah) betul harus berani mengambil yang secara scientific dengan terpaksa mengambil risiko tidak politis," kata Satryo saat dihubungi Antara, Jakarta, Selasa. 

Satryo berharap pemimpin mendatang dapat membuat kebijakan pembangunan ke depan dengan berlandaskan hasil kajian scientific (ilmiah) agar pembangunan yang dikembangkan itu membawa manfaat maksimal untuk kemajuan bangsa dan negara.

"Serta bisa meminimalkan kerugian-kerugian karena adanya tindakan atau pembangunan yang justru tidak membangun tapi malah mengorbankan atau menciderai masyarakat," ujarnya. 

Untuk itu, dia menuturkan pendekatan ilmiah harus menjadi prioritas bagi oara pembuat kebijakan agar pembangunan itu membawa kesejahteraan bagi masyarakat dalam jangka panjang.

"Jadi risiko politisnya ada tapi kalau lihat kebaikan untuk umat dan pembangunan harus sebisa mungkin kebijakannya itu dilandasi dari pendekatan yang scientific karena sains universal berlaku semua," tuturnya. 

Dia mengatakan pembangunan yang dilandasi hasil kajian ilmiah juga dapat masuk pada materi kampanye. 

"Memang untuk kampanye kurang menarik kurang pernah disinggung karena pendekatan ilmiah sering kali dianggap sebagai penghambat pertumbuhan karena kita maunya itu justru bagaimana tumbuh dengan tetap memggunakan pendekatan ilmiah dan itu bisa loh," ujarnya. 

Baca juga: ISF targetkan Nobel untuk peneliti Indonesia
 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar