Alat canggih untuk deteksi longsor

id bencana,banjir,longsor,gempa,erupsi,deteksi longsor

Ikustrasi - Peneliti Fakultas Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Sulkhan Nurrohman menunjukkan sistem peringatan dini bencana tanah longsor bernama "Sipendil" di UGM, Yogyakarta, Jumat (18/5/2018). Alat peringatan dini tanah longsor sederhana berbahan baku paralaon karya peneliti UGM yang menggunakan metode ambang batas hujan itu telah dipasang di lebih 40 titik rawan longsor di daerah Temanggung, Wonosobo serta Banjarnegara. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Yogyakarta (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memasang satu paket piranti canggih pendeteksi longsor pada tiga desa di Kabupaten Bantul untuk mengantisipasi potensi longsor selama musim hujan.

"Pemasangan itu dilakukan saat ini, karena harganya juga mahal sehingga baru sebagai percontohan dulu," kata Kepala Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) BPBD DIY, Danang Samsurizal, di Yogyakarta, Minggu.

Menurutnya satu paket piranti canggih pendeteksi gerakan tanah itu terdiri atas inklinometer yang berfungsi mengukur kemiringan bidang tanah, ekstensometer untuk mendeteksi pergerakan tanah, serta Soil Moistur untuk mengukur kelembaban atau kadar air pada tanah.

Ia menyebutkan hasil analisis potensi longsor itu dapat dipantau setiap saat melalui telepon pintar atau gawai.

"Hasil pemantauan akan dikombinasikan melalui rumus robotik yang akan menyimpulkan seberapa mengancam potensi longsornya. Kami juga dapat membunyikan sirine melalui gawai dari sini (Kantor BPBD DIY)," katanya.

Lokasi pemasangan alat itu yakni Desa Selopamioro, Wonolelo (Kecamatan Imogiri), dan Srimanganti (Kecamatan Piyungan) Kabupaten Bantul.

Ia mengemukakan pemasangan alat itu baru percontohan. Ke depan alat itu ditargetkan dapat dipasang pada 16 kecamatan di Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Sleman, dan Kulon Progo di DIY yang dinilai memiliki risiko tinggi tanah longsor selama musim hujan.

Berdasarkan pemetaan BPBD, kecamatan berisiko tinggi longsor meliputi Kecamatan Dlingo, Imogiri, Pleret, serta Piyungan (Bantul), Patuk Gedang Sari, Ngawen, Nglipar, Semin, Ponjong (Gunung Kidul), Kokap, Pengasih, Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang (Kulon Progo), serta Prambanan (Sleman).

Danang mengatakan BPBD memetakan tingkat kerawanan longsor tersebut mengacu pada zona kawasan yang berpotensi mengalami gerakan tanah di DIY yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2018.

PVMBG mendata 64 kecamatan di DIY terindentifikasi memiliki potensi gerakan tanah, mulai dari level menengah sampai tinggi.

Ia mengimbau warga mewaspadai tanda-tanda risiko tanah longsor seperti retakan tanah di lereng atau pinggiran sungai, sumber mata air baru, serta suara gemuruh.

"Apabila menemukan tanda-tanda, itu masyarakat bisa melaporkan kepada tim reaksi cepat (TRC) atau relawan setempat," kata dia.*

Baca juga: 16 kecamatan di Yogyakarta hadapi risiko tinggi longsor

Baca juga: Yogyakarta waspada risiko tanah longsor selama musim hujan


 

Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar