BUMDes penggilingan padi Desa Awang-Kalsel dibangun dari dana desa

id BUMDes Desa Awang Besar,Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalsel,membangun penggilingan padi,dana desa

BUMDes penggilingan padi Desa Awang-Kalsel dibangun dari dana desa

Mendes PDTT Di Penggilingan Modern Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo (kanan) mengunjungi penggilingan padi modern di Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (10/9/2017). Rencananya model pengelolaan penggilingan padi modern yang dikelola PT. Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) Pangan Terhubung akan dikembangkan di daerah-daerah lain untuk membantu Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan koperasi. (ANTARA FOTO/Budiyanto)

Barabai, Kalsel, (ANTARA News) - Desa Awang Besar, Kecamatan Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selata, mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sinar Harapan Jaya berupa penggilingan padi.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Subhani di Barabai, Senin mengatakan, dari sebanyak 161 desa di daerah itu, 62 desa telah memiliki BUMDes dengan berbagai usaha sesuai dengan potensi wilayahnya masing-masing.

Menurut dia, BUMDes tersebut dibangun dari hasil musyawarah desa, untuk mengembangkan dana desa yang diterima.

"BUMDes bertujuan suntuk meningkatkan pendapatan asli desa, jadi desa mengelola sendiri keuangannya melalui berbagai jenis usaha seperti peternakan, jasa, perdagangan dan lain-lain," katanya.

Kepala Desa Awang Besar Abdurrahman menyampaikan penyertaan modal dari Dana Desa untuk BUMDes Harapan Jaya adalah Rp330 juta.

Dana tersebut, dimanfaatkan untuk pembelian mesin penggilingan padi dan pembangunan gedung penggilingan.

"Kami lihat potensi Desa Awang Besar yang 90 persen penduduknya bertani, sehingga pembangunan penggilingan padi sangat sesuai untuk dikembangkan, guna memudahkan warga sekitar," katanya.

Direktur BUMDes Harapan Jaya Burhanuddin menjelaskan bahwa jumlah pekerja yang akan mengelola penggilingan padi, sebanyak empat orang dengan sistem bagi hasil yaitu 20 persen.

Adapun pengelola dan target yang akan dicapai sebesar Rp15 juta per tahun.

"Selain sebagai penggilingan padi, tempat ini juga bisa digunakan sebagai menampung hasil-hasil pertanian warga," katanya.

Upaya pengembangan BUMDes ke depan, tambah dia, pihaknya juga akan melakukan pengemasan jenis-jenis beras unggulan dari petani desa sekitar.

Menurut dia, bersama para Gapoktan, pihaknya akan bekerja sama dengan menyamakan bibit padi yang di tanam, pupuk dan membeli hasil pertanian dengan menjualnya ke BUMDes.

Baca juga: BUMDes diusulkan jadi distributor untuk atasi mafia beras

Pewarta : Ulul Maskuriah
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar