Indonesia-Ekuador realisasikan forum kerja sama perdagangan dan investasi

id indonesia dan ekuador,forum kerja sama,perdagangan,invesstasi,wgti

Illustrasi: Kepala Pusat Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) Dr. Ir Patuan Alfon Simanjuntak (kanan) dan Rektor Escuela Superior Politecnica del Litoral (ESPOL) Dr Cecilia Paredes (tengah) yang disaksikan Duta Besar RI untuk Ekuador Diennaryati Tjokrosuprihatono, menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama riset di Kampus ESPOL, Ekuador, Sabtu (27/1/2018). (ANTARA/HO/KBRI Quito Ekuador)

London (ANTARA News) - Indonesia dan Ekuador berhasil realisasikan Forum Kerja sama Perdagangan atau Working Group on Trade and investment (WGTI) yang pertama di Quito, Ekuador yang disepakati pembentukannya melalui Nota Kesepahaman di tahun 2012 lalu, setelah tertunda pelaksanaanya selama lima tahun lamanya.

Pensosbud KBRI Quito dalam keterangan yang diterima Antara London, Kamis menyebutkan pada WGTI yang digelar baru-baru ini, delegasi Indonesia dipimpin, Direktur Perundingan Bilateral, Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini didampingi oleh Duta Besar RI untuk Ekuador, Diennaryati Tjokrosuprihatono.

Dari pihak Ekuador dipimpin Maria Fernanda Cruz, Direktur Kawasan Asia, Afrika dan Oseania, Kementerian Produksi, Perdagangan dan Investasi Ekuador.

Pada pertemuan tersebut, kedua negara melakukan pembahasan mengenai berbagai isu perdagangan dan investasi antara kedua negara, seperti diantaranya terkait akses pasar, fasilitas perdagangan, prosedur kepabean, SPS serta pengenalan sektor investasi prioritas kedua negara.

Forum juga membahas mengenai hambatan-hambatan perdagangan yang selama ini dialami oleh kedua belah pihak, baik berupa tarif maupun non-tarif. Pihak Indonesia telah sampaikan keluhan baik importer maupun eksporter terkait tariff Ekuador yang masih sangat tinggi.

Indonesia mengusulkan agar kedua negara dapat menganalisa kemungkinan dibentuknya perjanjian kerja sama perdagangan di masa depan. Kedua pihak sepakat untuk melakukan kajian lebih lanjut terkait kemungkinan dibentuknya perjanjian dagang tersebut.

Menurut Direktur Perundingan bilateral, Kemdag, Made Marthini, pertemuan ini merupakan suatu hal yang bersejarah bagi hubungan bilateral kedua negara, mengingat sejak dibentuknya hubungan diplomatik di tahun 1980, baru pertama kali kedua negara melakukan forum kerja guna membahas isu-isu perdagangan dan investasi.

Diakui walau secara global, tingkat perdagangan antara Indonesia dan Ekuador belum terlalu signifikan, namun terlihat adanya peningkatan substantif setiap tahunnya. Ekuador merupakan mitra dagang terbesar Indonesia ke-5 di kawasan Amerika Selatan, yang berpotensi besar untuk menjadi pintu masuk bagi produk Indonesia ke pasar Amerika Selatan.

Di lain pihak, Indonesia merupakan mitra dagang yang cukup penting bagi Ekuador mengingat Indonesia merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-16 serta importer ke-19 terbesar bagi Ekuador, secara khusus bagi komoditas non-migas.

Dubes RI di Quito menyampaikan harapannya agar pertemuan ini menjadi langkah awal bagi peningkatan kerja sama ekonomi antara kedua negara. Dubes melihat besarnya potensi yang ada pada Ekuador, yang menjadikan pertemuan ini begitu penting untuk membuka hambatan yang membatasi perdagangan.

Ditambahkan, dengan diberikannya Primaduta Award pada salah satu perusahaan Ekuador pada tahun 2018 ini, telah menunjukan besarnya potensi yang dilihat Pemerintah Indonesia terhadap Ekuador, sebagai salah satu pasar non-tradisional di Amerika Selatan.

Pada  kunjungannya tanggal 19 Desember lalu Delegasi Indonesia juga melakukan diskusi dengan Asosiasi Kelapa Sawit Ekuador, Palmicultor terkait isu-isu yang dapat dikerjasamakan antara Indonesia dan Ekuador. Delegasi juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke pabrik kakao dan ladang bunga mawar, di mana keduanya merupakan dua komoditi impor utama Indonesia dari Ekuador.

Baca juga: Perundingan perjanjian perdagangan RI-Mozambik ditargetkan selesai 2019

 

Pewarta : Zeynita Gibbons
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar