Said Agil sebut Kiai NU tidak mungkin sebar hoaks

id PBNU,pemilu,pilpres

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj memberikan pernyataan usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jakarta, Kamis (10/1/2019). (Fransiska Ninditya/ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan anggotanya tidak mungkin membuat dan menyebarkan hoaks di tengah tingginya tensi politik menjelang Pemilu 2019.

"Kalau untuk warga NU, saya jamin. Kiai-kiai, santri-santri NU, tidak mungkin kiai NU bikin hoaks tujuh kontainer surat suara dicoblos. Pasti bukan NU, pasti. Saya jamin 100 persen pasti bukan NU," kata Said Aqil usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres Jakarta, Kamis.

Pembuatan dan penyebaran berita bohong merupakan salah satu tindakan tercela, sehingga sesuai dengan pesan Wapres JK, NU diminta untuk menjaga masyarakat agar tidak terprovokasi hoaks.

"Keputusan kita kan haram, dosa besar itu menyebarkan hoaks atau fitnah. Jelas, Pak Wapres mengharapkan NU selalu mengawal masyarakat agar jangan sampai terprovokasi oleh hoaks," tambahnya.

Said Aqil menjelaskan larangan untuk tidak mempedulikan berita bohong sudah diatur dalam Al-Quran sejak zaman Nabi Muhammad sehingga, PBNU mengimbau kepada seluruh anggotanya untuk tidak mudah terpengaruh dengan hoaks.

"Di Al-Quran 15 abad yang lalu sudah wanti-wanti, 'warning', jangan terpengaruh oleh berita bohong, adu domba, di Surat Al-Qalam. Jadi Al-Quran sudah 'warning' untuk era sekarang," tambahnya.

Untuk menjaga perdamaian dan kesatuan masyarakat Indonesia di tahun politik, Said Aqil mengatakan pihaknya akan turut mengawal pelaksaan Pemilu pada April mendatang.

"Tadi kami tukar pikiran (dengan Wapres JK) bahwa bagaimana pemilu yang akan datang ini betul-betul berjalan dengan aman, damai. Dari Nahdliyin, dari ulama, semuanya siap mengawal pemilu, pilpres dengan damai dan aman," ujarnya.

Baca juga: PBNU serukan Nahdliyin gunakan hak pilih
Baca juga: PBNU: NU setia NKRI meski ditekan penguasa


Pewarta : Fransiska Ninditya
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar