Inalum: proyek pengolahan batubara menjadi gas berjalan tahun ini

id Inalum,holding tambang,hilirisasi tambang

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Budi Gunadi Sadikin (kiri) bersama Sekjen Kementerian ESDM Ego Syahrial (tengah belakang), mantan Menteri Pertambangan dan Energi Subroto (depan) selaku Advisory Board Chairman MMII, dan Executive Director Mining and Minerals Industry Institute Ratih Amri meluncurkan Institut Industri Tambang dan Mineral atau Mining and Minerals Industry Institute (MMII) di Jakarta, Jumat (1/2/2019). Holding industri pertambangan PT Inalum (Persero) meluncurkan MMII sebagai lembaga riset dan inovasi untuk mempercepat pengembangan hilirisasi sektor pertambangan. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/hp.

Jakarta (ANTARA News) - Induk holding pertambangan PT Inalum (Persero) menyatakan proyek pengolahan batubara menjadi gas yang dilakukan bersama anak usaha, PT Bukit Asam Tbk, di Peranap, Riau ditargetkan sudah berjalan tahun ini.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin pada peresmian lembaga riset tambang di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa proyek dengan nilai investasi 2 miliar dolar AS tersebut menjadi satu dari empat proyek hilirisasi tahun ini yang dilakukan holding tambang.

"Mudah-mudahan akan berjalan tahun ini, tempatnya di Peranap, miliknya Bukit Asam. Produksinya bisa 1,4 miliar ton DME per tahun sebagai pengganti LPG," kata Budi.

Ia menjelaskan proyek hilirisasi batubara ini nantinya akan memberi nilai tambah dengan mengolah batubara menjadi komoditas lainnya, yakni synthetic natural gas (SNG), methanol dan dimethyl ether (DME).

Budi mengatakan dari proyek hilirisasi ini, dapat memproduksi 1,4 miliar ton DME per tahun yang bisa menggantikan LPG sebagai energi primer.

"LPG kita konsumsi 7 juta ton per tahun, sedangkan 5 juta ton itu dari impor sehingga kita percaya kalau bisa menghasilkan DME, bisa mengurangi impor, mengurangi 'current defisit' dan memperkuat rupiah," kata Budi.

Ia menambahkan bahwa energi bersumber dari batubara akan lebih mudah dibandingkan dari energi lain seperti gas dan diesel. Ia mencontohkan biaya produksi pembangkit listrik berbahan bakar diesel sebesar 11-12 sen dolar AS per kWh, sedangkan gas 9-10 sen dolar AS per kWh. Sementara itu, jika menggunakan batubara lebih murah 4-5 sen dolar AS per kWh.

Pada tahun ini, Inalum akan fokus pada pengerjaan empat proyek hilirisasi yang terdiri dari pembangunan pengolahan bauksit menjadi alumina bersama PT Aneka Tambang Tbk di Kalimantan Barat, pembangunan pengolahan batubara menjadi gas dan produk turunan lainnya yang akan dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk di Riau.

Selanjutnya, pembangunan smelter tembaga yang akan dilakukan oleh PT Freeport Indonesia dan penjajakan pengolahan nikel menjadi bahan utama yang dapat digunakan oleh industri baterai.

Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar