Presiden pastikan tol Balikpapan-Samarinda selesai 85,7 persen

id jalan tol pertama Kalimantan,ruas Balikpapan-Samarinda,Presiden Joko Widodo, Badan Usaha Jalan Tol bujt,Jasamarga ,pupr

Suasana proyek pembangunan ruas jalan tol Balikpapan-Samarinda (MYC) Seksi V rute Km 13-Sepinggan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (7/9/2018). Pembangunan ruas jalan tol Balikpapan-Samarinda itu merupakan bagian dari Proyek Stategis Nasional sepanjang kurang lebih 99 kilometer yang terbagi dalam lima seksi dan ditargetkan selesai pada April 2019. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.

Balikpapan  (ANTARA News) - Kalimantan Timur segera memiliki jalan tol pertama di Kalimantan dengan selesainya jalan tol Balikpapan-Samarinda hingga 85,7 persen, seperti ditegaskan Presiden Joko Widodo melalui akun twitter @jokowi yang dikirim Sabtu, 16 Februari.

"Pulau Kalimantan akan punya jalan tol untuk pertama kalinya. Panjangnya 99,35 km, dari Balikpapan sampai Samarinda. Sampai awal bulan ini, konstruksinya sudah mencapai 85,7 persen," tulis Presiden Jokowi. 

"Jalan tol ini memangkas waktu tempuh dari Balikpapan ke Samarinda, dari tiga (dua) jam jadi hanya satu jam," sambung Presiden.

Pembangunan jalan tol ini menelan anggaran Rp9,9 triliun dari dana skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Proyek dikerjakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasamarga Balikpapan-Samarinda yang mengerjakan Seksi 2, 3, dan 4 atau seluruhnya sepanjang 66,43 kilometer.

 Pembangunan jalan tol Balikpapan-Samarinda yang terdiri dari 4 jalur 2 arah itu  dimulai pada 2010, di masa Gubernur Awang Faroek Ishak.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pembangunannya bersamaan dengan sejumlah proyek infrastruktur lain, termasuk Pelabuhan Peti Kemas Kariangau.

Namun kemudian pada 2012 pembangunan terhenti karena kesulitan pembiayaan dan meningkatnya harga lahan yang harus dibebaskan pemerintah.

Baru pada November 2015 proyek ini dilanjutkan kembali. Bulan Maret 2016 Presiden Joko Widodo meninjau langsung proyek didampingi Gubernur Awang Faroek yang sekarang harus duduk di kursi roda karena kondisi kesehatannya yang menurun.

"Konstruksi sudah selesai 7,6 km dan total investasi nantinya kurang lebih Rp13 triliun," kata Presiden saat itu.

Presiden juga menyebutkan pembebasan lahan yang menjadi masalah di banyak proyek infrastruktur, tidak terkecuali di proyek tol Balikpapan-Samarinda.

Ketika itu juga Presiden mengaku lega, sebab pembebasan lahan untuk proyek sudah mencapai 85 persen.

"Jadi kurang sedikit, tapi kita ini bekerja sambil berkejar-kejaran. Pembebasan berkejar-kejaran dengan konstruksi," tuturnya.

 Sebelumnya dalam rilis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pekan ini disebutkan selambatnya proyek ini akan selesai Agustus 2019. 

Dirincikan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Seksi I Balikpapan-Samboja sepanjang 22,03 kilometer konstruksinya sudah mencapai progres sebesar 96,82 persen dan ditargetkan rampung pada April 2019.  

Seksi II Samboja-Muara Jawa dengan panjang 30,98 kilometer dengan progres konstruksi sebesar 83,73 persen dan Seksi III Muara Jawa-Palaran sepanjang 17,50 kilometer progresnya sebesar 97,21 persen. Kedua seksi tersebut ditargetkan akan rampung pada Maret 2019.

Seksi IV Palaran-Samarinda dengan panjang 17,95 kilometer progresnya sudah mencapai 75,33 persen dengan target rampung Juli 2019.

Terakhir Seksi V Balikpapan-Bandara Sepinggan sepanjang 11,09 kilometer, progresnya mencapai 68 persen dengan target rampung Agustus 2019.  

Jalan tol ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan mengurangi biaya logistik sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat lagi.

Saat ini kedua kota utama Kalimantan Timur itu dihubungkan Jalan Soekarno-Hatta sepanjang 110 km. Jalan yang dibangun tahun 70-an akhir itu juga dikenal dan disebut sebagai Russian Road oleh banyak ekspatriat migas di Balikpapan, karena dibangun kontraktor dari Rusia.

Baca juga: Presiden tinjau pembangunan jalan tol pertama di Kalimantan
Baca juga: Jokowi targetkan jalan tol Kalimantan rampung 2018 

Pewarta : Novi Abdi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar