Pedagang sajikan Kue Bulan dan Kerak Telor tandai budaya Tionghoa-Betawi bersatu

id Cap Go Meh,Kue Bulan,Kerak Telor,Festival Pecinan

Salah satu pedagang menyajikan makanan khas Tionghoa kue bulan dan kerak telor pada Festival Pecinan Cap Go Meh di kawasan Pancoran, Tamansari, Grogol, Jakarta Barat, Selasa (19/2). (ANTARA News/Agus Saeful)

Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah pedagang menyajikan kue bulan dan makanan kerak telor di Festival Pecinan Gong Xi Fa Cai kawasan Pancoran, Tamansari, Jakarta Barat pada Selasa, sebagai tanda budaya Tionghoa dan Betawi bersatu.

Kue bulan merupakan penganan khas masyarakat Tionghoa sedangkan kerak telor makanan khas Betawi.

Salah satu pedagang, Alien menyatakan kue bulan biasa dijajakan pada even tertentu seperti perayaan tahun baru China atau Imlek, bermakna untuk sembahyang pada bulan delapan dalam kalender China.

Selain menjual kue bulan, Alien juga menjual makanan lain khas China yang biasa dijajakan dalam perayaan imlek seperti kue keranjang dan delapan macam buah.

"Selain Kue bulan, ada kue keranjang dan delapan macam buah yang selalu dijajakan pada momen-momen imlek," ujar Alien.

Kue keranjang dituturkan Alien, identik bermakna untuk melekatkan saudara dan keluarga supaya lebih erat, sedangkan delapan macam buah yang diletakan dalam satu wadah kecil memilki arti keberuntungan. Sementara itu, pedagang lainnya, Indra mengungkapkan penyajian kerak telor memiliki arti kepemimpinan dan kesatuan.

"Kerak Telor ini melambangkan kesatuan, semua bahan disatukan dan direkatkan oleh telor, artinya pemimpin juga harus bisa menyatukan dan merekatkan warganya," Indra menjelaskan.

Alien dan Indra juga menanggapi pagelaran Cap Go Meh itu agar dijadikan agenda berkelanjutan setiap tahun guna melestarikan budaya.
 

Pewarta : Taufik Ridwan dan Agus Saeful
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar