Masyarakat Wakatobi minta Presiden Jokowi bebaskan sandera Abu Sayaf

id sandera,abu

Anak Buah Kapal korban penyanderaan kelompok bersenjata di Filipina Selatan, Usman Yunus (tengah) bersama istri dan putrinya serta kerabatnya tiba di Kementerian Luar Negeri, Jakara, Kamis (13/12/2018). Usman Yunus diculik dan disandera oleh kelompok bersenjata di perairan dekat Pulau Gaya, Samporna, Sabah, Malaysia pada 11 September 2018. ANTARA FOTO/HO/Kemlu/Rasto/nz. (ANTARA FOTO/Suwandy)

Kendari (ANTARA News) - Masyarakat Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) meminta kepada Presiden Joko Widodo, untuk membantu menyelematkan dua sandera kelompok Abu Sayyaf, yang juga warga daerah itu di Filipina.

Dua sandera kelompok Abu Sayyaf itu warga asal Kecamatan Kaledupa Kabupaten Wakatobi bernama La Hariadi bin La Rere asal Desa Kalimas dan La Heri Ardiansyah bin Herman beralamat Desa Sandi Kecamatan Kaledupa, dibenarkan salah satu keluarganya, Fitriyani melalui pesan singkat di Kendari, Rabu.

Sebelumnya, video amatir berdurasi 30 detik beredar ramai di media sosial itu juga mendapat respon dari salah satu aktivis di daerah itu bernama, Dariono.

Ia meminta pemerintah pusat untuk secepatnya mengambil sikap dengan mengutus pejabat di Kedutaan RI di Filipina atau pejabat khusus yang ditugaskan kepala negara melakukan mediasi terkait penyelamatan dua warga itu.

Dariono mengungkap bahwa dalam video amatir itu kedua sandera itu ditutup mulutnya dengan lakban berwarna coklat muda sembari memegang spanduk berbahan kertas karton berwarna putih.

Isi tuntutannya senada yakni agar Presiden RI, Joko Widodo bisa menyelamatkan kedua sandera itu dari tangan kelompok Abu Sayyaf, Filipina.

"Pak Presiden selamatkan saudara kami, asal Kaledupa yang disandera Abu Sayyaf," kata Fitriyani.

Kedua sandera diketahui bernama La Hariadi bin La Rere dan La Heri Ardiansyah, keduanya dalam posisi terancam dan kedua mata tertutup dan mereka terikat kain hitam, dikelilingi lima orang berpakain seragam loreng bersenjata lengkap.

Salah satu di antaranya menempelkan sebilah parang atau golok di leher sandera itu sembari dipaksa untuk bicara.

"Saya adalah Warga Negara Indonesia, pekerjaan saya nelayan di Sabah, Sandakan. Saya kena tangkap oleh Abu Sayaf di Laut Sandakan. Saya minta perhatian pemerintah Republik Indonesia terutama Presiden dan Bapak Dadang yang mengurus," ungkapnya dalam video amatir yang banyak beredar di media sosial itu.

Baca juga: WNI sandera di Filipina selatan dibebaskan
Baca juga: Kemlu benarkan video sandera minta tolong adalah WNI

 

Pewarta : Abdul Azis Senong
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar