Gus Mis sebut puisi Neno Warisman tunjukkan nafsu politik

id Puisi Neno,pilpres 2019,Zuhairi Misrawi

Neno Warisman (Foto: Istimewa)

Jakarta (ANTARA News) - Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Zuhairi Misrawi menyebut polemik yang beredar di masyarakat terkait puisi Neno Warisman dalam acara Malam Munajat 212 dipicu oleh nafsu kekuasaaan yang mencampuradukkan masalah agama ke dalam politik.

"Puisi Neno Warisman yang dibacakan dalam acara Munajat 212 banyak mendapatkan respons dan kritik dari umat Islam, karena isi puisi tersebut telah membawa agama ke dalam ranah politik yang dapat memecah belah umat Islam kedalam polarisasi politik yang semakin tajam," ujar Gus Mis, panggilan akrab Zuhairi Misrawi, dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu.

Menurut ketua Bidang Hubungan Antar-Agama Baitul Muslimin Indonesia itu, bahwa dalam sejarah Islam, isi puisi Neno Warisan sangat berbahaya, karena dapat menjadi petaka (nakbah).

"Hal serupa pernah dilakukan oleh Kaum Khawarij di masa lalu, karena mengatasnamakan Allah untuk sekadar memuaskan nafsu politik.” katanya.

Gus Mis mengatakan semua makhluk akan menyembah Allah karena fitrah manusia begitu dekat dengan Tuhannya (hablum minallah).

"Maka dari itu, hindarilah cara-cara mempolitisasi Allah ala kaum Khawarij, karena Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang," tambah Gus Mis.

Calon Anggota Legislatif (Caleg) untuk DPR RI dari PDI Perjuangan ini menilai seharusnya perhelatan politik lima tahunan diisi dengan adu program, argumen, gagasan dan bukan sebaliknya yang memperluas friksi dan polarisasi dengan membawa-bawa agama.

"Mayoritas muslim di Indonesia adalah mereka yang beragama secara moderat dan toleran. Mereka paham betul antara domain ibadah dan domain politik. Sejatinya ibadah kita kepada Allah (hablum minallah) justru untuk memperkuat persaudaraan (hablum minannas). Puisi Neno Warisman jelas sangat berbahaya, karena merusak hablum minallah sekaligus hablum minannas," tutup Gus Mis.

Sebelumnya, puisi Neno Warisman yang dibacakan saat acara Malam Munajat 212 di kawasan Monas, Jakarta, Kamis (21/2), menuai kontroversi.

Masyarakat Indonesia menilai puisi Neno telah mendahului ketentuan Tuhan karena menghakimi keagamaan seseorang.

Dalam salah satu bait puisi yang berbunyi Jangan jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami Karena jika Engkau tidak menangkan Kami khawatir ya Allah Kami khawatir ya Allah Tak ada lagi yang menyembah-Mu, menyiratkan seolah-olah pada pihak pasangan Capres-Cawapres 01 tidak ada yang beragama.

Baca juga: Politikus PPP: Doa Neno Warisman berpotensi pecah belah masyarakat

Baca juga: PBNU ingatkan Neno Warisman tak mengandaikan pilpres sebagai perang

Pewarta : Joko Susilo
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar