Menggelorakan bisnis kuliner Indonesia di Australia

id restoran sendok garpu

Menggelorakan bisnis kuliner Indonesia di Australia

Pemilik dan pengelola Restoran Sendok Garpu Alicia Martino. (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Melalui resep keluarga yang diturunkan turun-temurun, Alicia Martino, seorang pemilik dan pengelola Restoran Sendok Garpu, mengembangkan bisnis kuliner Indonesia di Brisbane, Queensland, Australia.

Resep rumahan ini membawa keotentikan kuliner Indonesia dan memberikan cita rasa khas sehingga diminati para pembeli baik dari Indonesia maupun luar negeri.

Di restoran Sendok Garpu milik Alicia, dijual berbagai masakan Indonesia seperti gulai kambing yang merupakan resep ayah Alicia yang berasal dari Provinsi Aceh.

"Resep kami kebanyakan 'family recipe' (resep keluarga) karena oma dulu juga punya restoran di Pasar Baru, terkenal dia dulu," tuturnya kepada wartawan di Brisbane, Queensland, Australia, Sabtu.

Resep tradisional masakan Indonesia itu mampu mendatangkan 90 persen pelanggan non Indonesia ke restoran Sendok Garpu. Memang, Alicia memiliki keinginan untuk mempromosikan Indonesia ke luar dan salah satu upayanya melalui hidangan kuliner.
Pelanggan sedang menunggu pesanan makanan di Restoran Sendok Garpu di Brisbane, Queensland, Australia, Sabtu. (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)


Perempuan yang merupakan lulusan di bidang Ilmu Administrasi dari Universitas Indonesia itu mengaku sama sekali tidak memiliki latar belakang sekolah memasak. Memasak menjadi hal yang sangat disukainya dan memang dia memilih untuk mandiri dan memiliki usaha tanpa harus bekerja pada orang lain.

Setelah lulus dari Universitas Indonesia, Alicia mengambil penawaran kerja di Bank Danamon. Namun, dia hanya bertahan selama dua tahun karena dia berkeinginan untuk membuka usaha restoran.

"Setelah dua tahun bekerja, saya 'resign' (mengundurkan diri) dari Bank Danamon, saya buka warung tenda di Jakarta, di daerah Cibubur," ujarnya.

Awalnya, dia membuka warung Jepang karena pada saat itu tren warung Jepang, namun dia tetap menyelipkan masakan seperti gulai kambing dan roti cane.

Namun, saat krisis mulai melanda Indonesia dan demonstrasi kerap terjadi, Alicia dan suami memilih untuk pergi sejenak ke luar negeri .

"Tiba-tiba Indonesia sudah mulai ramai demo-demo, karena kondisi tidak enak kita ke Australia aja," tuturnya.

"Alicia sama suami memang tidak cocok kerja sama orang, harus buka usaha sendiri," ujarnya.

Salah satu cara yang dia tempuh untuk bisa pergi ke Australia adalah dengan bersekolah. Alicia pun belajar selama dua tahun di Australia untuk jenjang diploma.

"Mau tidak mau sekolah lagi kan supaya bisa masuk Australia," tuturnya.

Setelah lulus kuliah dua tahun itu, muncul informasi untuk mendapatkan "Permanent Residency" di Australia dengan minimal sekolah dua tahun di Australia dan punya keterampilan tertentu.

Alicia pun mengajukan permohonan untuk Permanent Residency dan tiga bulan kemudian mendapatkannya.

"Awalnya kami (Alicia dan suami) mau sekolah dua tahun di Australia, terus mau 'upgrade' dari warung tenda jadi restoran di Indonesia, eh 'stuck' di sini ya sudah terus punya anak, dan April 2019 nanti saya sudah 20 tahun tinggal di Australia," ujarnya.

Pionir restoran Indonesia di luar negeri

Sendok Garpu menjadi salah satu dari 10 restoran Indonesia pertama di dunia, yang merupakan partner branding dari Wonderful Indonesia.
Suasana Restoran Sendok Garpu yang mencerminkan budaya Indonesia di Brisbane, Queensland, Australia. (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)


"Saya kan di co-branding partner- nya Wonderful Indonesia,  kami yang pertama malah 10 restoran di dunia  pertama salah satunya kita, terus kita ada di tim percepatannya Kementerian Pariwisata," tutur Alicia.

Alicia menuturkan sekarang sudah ada 135 restoran Indonesia yang co-branding dengan Wonderful Indonesia di dunia.

"Kami itu  diberi  'mission' (misi) bagaimana  caranya restoran Indonesia itu jangan angkanya turun tapi bertambah," tuturnya.

Menurut Alicia, makanan Indonesia itu belum sepopuler masakan Asia lain seperti Cina dan Thailand sehingga perlu upaya lebih untuk memaksimalkan promosi dan menduniakan masakan Indonesia, padahal cita rasa dan pilihan makanannya sangat otentik dan kaya.

"Karena kan makanan orang Indonesia itu 'challenging' (menantang) banget karena belum terkenal jadi tidak populer dibanding makanan Asia lain karena itu sebenarnya kami co-branding di partner. Inii semuanya  punya 'mission' (misi) bagaimana caranya makanan Indonesia jadi lebih populer dari makanan Asia lain di dunia," tuturnya.

Sumber daya manusia

Pada suatu rapat koordinasi, sebanyak 135 restoran Indonesia di dunia telah dikumpulkan untuk membahas masalah dan tantangan serta strategi yang harus dilakukan untuk bertahan dan terus berkembang di luar negeri.

Alicia menuturkan salah satu masalah untuk mempertahankan restoran Indonesia di luar negeri adalah pegawai yang memahami masakan Indonesia.

Dia menuturkan rata-rata orang Indonesia yang memahami keotentikan masakan Indonesia adalah ibu-ibu atau 'mbok' yang biasa masak makanan tradisional Indonesia.

Namun, untuk mendatangkkan 'mbok' itu ke luar negeri akan sulit karena perlunya melewati sejumlah persyaratan seperti kemampuan berbahasa Ingris dan keterampilan yang sudah tersertifikasi.

"Kami mau panggil orang dari Indonesia yang bisa makanan otentik itu rata-rata mbok-mbok, tapi mereka kan tidak 'qualified' mau masuk Australia, tahu sendiri persyaratannya mereka setidaknya diploma apa, commercial cookery, IELTS test-nya harus berapa, sedangkan yang lulusan sekolah perhotelan benar mereka rata-rata tidak ada yang belajar masakan Indonesia," ujarnya.

Dia juga menyampaikan kepada pihak Kementerian Pariwisata bahwa untuk mengenalkan masakan Indonesia kepada orang luar, maka harus ada kecintaan dan pengenalan orang Indonesia sendiri terhadap kuliner Indonesia.

"Kita harus bangga sendiri ya sama masakan Indonesia, bangga kalau jadi chef masakan Indonesia itu keren loh, nah itu yang mesti kita tularkan ke anak-anak sekarang," tuturnya.

Untuk itu, masakan Indonesia memang harus dimasukkan ke dalam kurikumlum pembelajaran seperti di sekolah pariwisata agar setidaknya mereka punya pengetahuan dasar akan masakan Indonesia.

"Gimana kalau kita sendiri orang Indonesia tidak bangga sama masakan Indonesia, sampai makanan kita sendiri aja tidak ada di kurikulum. Mereka (mahasiswa sekolah pariwisata) lebih bangga oh saya sekolah masakan jurusan masakan Perancis, saya sekolah chef untuk masakan Italia. Ada tidak sih yang bangga oh saya masak sekolah jurusan masakan tradisional Indonesia? Itu tidak ada," tuturnya.

"Sekarang alhamdulliah semua sekolah pariwisata ambil 'commercial cookery', sebelum dia ambil jurusan French food, dia harus lewati satu semester makanan Indonesia, jadi dia harus belajar bumbu dasar A, B, C, bumbu dasar kuning, merah, putih, masak nasi gini, yang inti-intinya, yang 'basic' (dasar) dia harus tahu," tuturnya.

Oleh karena itu, pada rapat koordinasi itu, para pengusaha kuliner Indonesia di luar negeri menyampaikan setidaknya menjadi pembelajaran wajib bagi mahasiswa yang belajar di sekolah pariwisata, sehingga ketika bekerja atau membuka usaha di luar negeri mereka bisa memahami dan mempromosikan masakan Indonesia.

"Makanya kemarin kami sampaikan   harus wajib sebelum dia jadi chef Italian food, French food, 'whatever' (apapun) dia harus punya 'basic' (dasar) (tentang masakan dan memasak makanan Indonesia)," ujarnya.

"Saya pernah dapat satu staf, dia tadinya lulusan NHI Bali, 'which is good school', 'best school untuk hospitality in Indonesia. Saya senang, wah saya dapat staf bagus banget tapi diminta goreng kerupuk tidak bisa," lanjutnya.

Baca juga: Mempopulerkan cita rasa kuliner Indonesia di luar negeri

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar