Milisi Mai mai serang pusat perawatan ebola

id Kongo,Ebola

Milisi Mai mai serang pusat perawatan ebola

Petugas Kementerian Kesehatan Kongo mengatur vaksin Ebola eksperimen angkatan pertama di Kinshasa, Republik Demokratk Kongo, Rabu (16/5/2018). (REUTERS/Kenny Katombe)

Goma, Kongo (ANTARA) - Sejumlah anggota milisi Mai Mai yang bersenjata menyerang satu pusat perawatan Ebola di jantung wabah penyakit itu di bagian timur Kongo pada Sabtu.

Serangan itu menewaskan seorang personel polisi sebelum aksi mereka dibalas pasukan keamanan, kata wali kota setempat.

Pusat tersebut yang terletak di Butembo sama dengan fasilitas yang dibakar para penyerang tak dikenal pekan lalu, serangan yang menyebabkan Medecins Sans Frontieres (Dokter Tanpa Perbatasan) menangguhkan kegiatan-kegiatan di kawasan itu.

Para pekerja bantuan telah menghadapi rasa tak percaya yang dalam dari para warga setempat di beberapa kawasan ketika mereka bekerja untuk mengatasi wabah itu, yang sudah menjadi wabah terburuk dalam sejarah Republik Demokratik Kongo. Sejauh ini wabah itu membunuh hampir 600 orang, demikian Reuters melaporkan.

Usaha-usaha untuk mengatasi virus itu telah terkendala kebanyakan kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah timur yang tingkat ketaatannya kepada hukum rendah.

Baca juga: Penyerang bakar pusat perawatan Ebola di Kongo

Presiden Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus dijadwalkan mengunjungi pusat Butembo itu pada Sabtu.

Seorang juru bicara WHO mengatakan masih belum jelas apakah lawatan Presiden WHO itu akan berlangsung.

Walikota Butembo Sylvain Kanyamanda Mbusa mengatakan para militan Mai Mai berhasil dipukul mundur.

"Karena serangan-serangan sebelumnya, sistem keamanan sudah berlaku dan para penyerang segera dibalas personel polisi yang menjaga ....pusat itu," kata dia kepada Reuters.

Fasilitas itu sudah beroperasi kembali hanya seminggu lalu dan telah dikelola kementerian kesehatan bekerja sama dengan WHO dan Dana Anak-anak PBB.

Mai Mai mengambil nama dari kata "air" dalam bahasa setempat Swahili, karena sebagian petempur meyakini sihir dapat mengubah peluru-peluru yang terbang menjadi air.

Mereka terdiri atas beberapa kelompok bersenjata yang sebenarnya terbentuk untuk melawan dua invasi pasukan Rwanda pada penghujung 1990-an. Sejak itu mereka berubah menjadi berbagai milisi berdasarkan suku, jejaring penyelundup dan kegiatan perlindungan.

Redaktur: Gusti Nur Cahya Aryani

Pewarta : Antara
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar