Pengamat nilai cawapres tidak tawarkan ide baru dalam debat

id debat capres,debat cawapres,Pengamat kebijakan publik dari ui, Teguh Dartanto,jkn,stunting,imunisasi

Anggota Pembina Yayasan CSIS Mari Pangestu (kiri) selaku moderator berbicara disaksikan para nara sumber, Pemerhati Pendidikan Doni Koesoema A (kedua kiri), Ketua Departemen Ilmu Ekonomi UI Teguh Dartanto (tengah), Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Haryo Aswicahyono (kedua kanan) dan Pengamat Sosial Budaya Vokasi UI Devie Rahmawati (kanan) pada Diskusi Seri Pemilu 2019 di Jakarta, Senin (18/3/2019). (ANTARA/AUDY ALWI)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia Teguh Dartanto menilai secara umum calon wakil presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno tidak menawarkan ide baru dalam debat cawapres putaran ketiga pada Minggu (17/3).

"Secara umum debat Cawapres kemarin berlangsung secara datar dan normatif. Tidak banyak ide-ide baru yang ditawarkan," kata Teguh di Jakarta, Selasa.

Teguh menilai kedua cawapres sangat santun dalam menyampaikan ide-idenya tanpa ada serangan tajam antara satu dengan yang lainnya.

Dia menjelaskan, pada isu kesehatan tidak ada perbedaan yang mencolok antara kedua pasangan cawapres.

"Mereka fokus pada isu stunting, Program Jaminan Kesehatan Nasional dan isu preventif. Tidak ada tawaran-tawaran baru, mereka lebih monolog menyampaikan ide-idenya," katanya.

Cawapres 01 KH Ma'ruf Amin menurut Teguh lebih paham secara mendalam terkait isu stunting dibandingkan dengan Cawapres 02 Sandiaga Uno.

Sedangkan Sandi lebih eksploratif terhadap isu JKN dengan menjanjikan 200 hari pertama akan menyelesaikan isu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), salah satunya mengundang ahli aktuaria dari Hongkong, sedangkan Ma'ruf menyangkat isu JKN secara normatif.

Namun Teguh menyayangkan kedua cawapres tidak mengangkat isu Imunisasi yang sangat penting buat masa depan Indonesia. Cakupan imunisasi lengkap menurun dari tahun 2013.

"Kedua cawapres lupa atau melupakan atau waktunya tidak cukup. Isu kedua adalah perilaku beresiko seperti merokok tidak dibahas sama sekali, padahal prevalensi merokok anak meningkat dari tahun 2013 ke 2018," tambah dia.

Pemilihan Presiden 2019 diikuti dua pasangan calon presiden dan wakil presiden, yakni pasangan nomor urut 01 Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin, serta pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Baca juga: Sejumlah pakar kritisi debat cawapres yang kurang memuaskan
Baca juga: Janji capres-cawapres untuk layanan kesehatan lebih baik

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar