Din Syamsuddin: Perlu teologi bersama tentang kerukunan

id din syamsuddin

Ilustrasi - Din Syamsuddin usai menemui Presiden di Istana Merdeka, Jakarta pada Selasa (25/9/2018). (Foto: Bayu Prasetyo)

Jakarta (ANTARA) - Co-President of World Conference on Religions for Peace (Religions for Peace International) Profesor Din Syamsuddin menganjurkan perlunya Ttologi bersama (shared theology) tentang kemajemukan, hidup berdampingan secara damai, toleransi, dan kerukunan.

Profesor Din Syamsuddin selaku Co-President of World Conference on Religions for Peace (Religions for Peace International) dalam pesan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu, tampil sebagai pembicara pada pertemuan para tokoh agama-agama dunia di Moskow, 25 Maret 2019.

Pertemuan sehari tersebut mengambil tema Ways to Achieve Interreligious Peace: Roles of Theologians, Diplomat, and Public Figures. Pertemuan diselenggarakan bersama Kantor Dewan Mufti Russia, Russian Orthodox Church, dan ISESCO, dihadiri sekitar 150 tokoh berbagai agama dari berbagai negara di dunia.

Menurut Din yang juga President of Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) itu, agama-agama, walau ada perbedaan pada sistem kredo, yakni konsepsi tentang Tuhan, memiliki titik singgung tentang kemajemukan, koeksistensi, toleransi, dan kerukunan.

Titik singgung itu hanya dapat dilihat jika keberagamaan sejati diletakkan pada kemanusiaan.

"Beragama sejatinya untuk manusia dan kemanusiaan," katanya.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu, Islam menekankan aspek humanis keberagamaan tersebut.

Hal itu dapat dipahami dari pernyataan Al Qur'an bahwa misi kerasulan Muhammad SAW adalah menyebar rahmat bagi seluruh umat manusia, bahkan alam semesta (rahmatan lil 'alamin).

Maka, menurut dia, sudah saatnya dikembangkan teologi kerukunan bahkan antaragama yang berbasis pada humanisme religius itu.

Din Syamsuddin optimistis jika teoligi semacam itu dikembangkan atau diarusutamakan, sebagian masalah peradaban manusia dan kemanusiaan dapat ditanggulangi.
 

Pewarta : Erafzon Saptiyulda AS
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar