Din Syamsuddin: kedepankan teologi bersama untuk kerukunan

id din syamsuddin

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Rabu (30/1/2019). (ANTARA/Anom Prihantoro) (ANTARA/Anom Prihantoro/)

Jakarta (ANTARA) - Pendiri Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Din Syamsuddin menganjurkan perlunya teologi bersama (shared theology) tentang kemajemukan, hidup berdampingan secara damai, toleransi dan kerukunan.

"Agama-agama, walau ada perbedaan pada Sistema Kredo yaitu konsepsi tentang Tuhan tapi memiliki titik singgung tentang kemajemukan, koeksistensi, toleransi dan kerukunan," kata Din di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan teologi bersama itu merupakan titik singgung antaragama yang juga memiliki benang merah tentang kemanusiaan.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengatakan kerukunan dalam keberagamaan sejati bisa tumbuh dengan simpul kemanusiaan.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia tersebut, Islam sangat menekankan aspek humanis keberagamaan. Hal itu dapat dipahami dari pernyataan Al Quran bahwa misi kerasulan Muhammad SAW adalah menyebar rahmat bagi seluruh umat manusia, bahkan alam semesta atau "rahmatan lil 'alamin".

"Beragama sejatinya untuk manusia dan kemanusiaan", katanya.

Dalam konteks nasional, Din mengatakan enam agama di Indonesia meski memiliki perbedaan tetapi memiliki persamaan yang menjadi modal dasar kerukunan.

Persamaan tersebut, kata dia, membuat Indonesia tidak mudah dipecah belah. Dengan begitu, kehidupan berbangsa dan bernegara tetap rukun dalam persatuan dan kesatuan Indonesia.

Di tahun politik 2019, Din mengatakan masyarakat Indonesia harus bisa mengelola perbedaan itu dengan baik sehingga tidak terjerumus dalam perpecahan. Peran tokoh masyarakat dan ormas-ormas keagamaan juga strategis dalam menjaga kerekatan sesama warga bangsa.

"Persatuan bangsa itu adalah di atas segala-galanya," kata dia.

Baca juga: Din tegaskan Muhammadiyah tak boleh netral dalam pilpres

Baca juga: Seputar polemik tentang kafir

Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar