Yogyakarta akan olah sampah menjadi batako

id Sampah,yogyakarta

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fajar Yulianto Prabowo (kiri) bersama Muslim Mahardika (kanan) menunjukan cara kerja mesin pencacah plastik di UGM, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (14/2/2019). Mensin pencacah plastik karya peneliti UGM diantaranya Muslim Mahardika, Nizam, Rachmat Sriwijaya, Sigiet Haryo Pranoto dan Fajar Yulianto Prabowo yang dibuat dengan memanfaatkan komponen lokal itu diharapkan mampu menekan sampah plastik yang saat ini tengah menjadi persoalan serius bagi Indonesia. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko. (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan Kecamatan Tegalrejo sebagai pilot project pengolahan sampah menjadi batako sebagai salah satu upaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Piyungan di Kabupaten Bantul, DIY.

“Kecamatan Tegalrejo dinilai paling siap. Pada awalnya, kami bisa menyiapkan tiga peralatan, namun karena keterbatasan lahan, maka hanya bisa direalisasikan di dua lokasi saja,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, peralatan pengolahan sampah tersebut berbentuk seperti cerobong guna mengolah sampah. Sampah yang dimasukkan akan menjadi residu yang nantinya digunakan sebagai bahan utama pembuatan batako.

Heroe menyebut, konsep pengolahan sampah serupa juga sudah dilakukan di beberapa daerah seperti Cirebon dan teknologi pengolahan sampah tersebut tidak akan menimbulkan polusi bagi lingkungan atau berbahaya bagi warga yang tinggal di sekitarnya. “Tidak ada asapnya dan tidak berbau sehingga ramah lingkungan,” katanya.

Dengan peralatan tersebut, lanjut Heroe, maka tidak akan ada lagi sampah dari Tegalrejo yang dibuang ke TPA Piyungan karena seluruhnya sudah diolah di tempat pengolahan sampah.

“Investasi untuk peralatan pengolah sampah juga tidak terlalu mahal. Sekitar Rp170 juta sampai Rp200 juta per unitnya,” katanya.

Peralatan yang akan ditempatkan di Tegalrejo tersebut memiliki spesifikasi mampu mengolah sampah sebanyak empat hingga delapan ton dalam waktu empat hingga enam jam saja.

“Jika sistem pengolahan sampah yang diterapkan di Tegalrejo ini berhasil, maka kami akan kembangkan di seluruh wilayah di Kota Yogyakarta. Harapannya, sampah tidak dibuang ke TPA Piyungan lagi,” katanya.

Saat ini, meskipun Kota Yogyakarta sudah memiliki sekitar 450 bank sampah, namun tetap bergantung pada keberadaan TPA Piyungan sebagai tempat pembuangan akhir sampah sehingga saat TPA Piyungan berhenti beroperasi, maka tumpukan sampah terlihat menggunung di sekitar tempat pembuangan sampah sementara dan depo.

Sementara itu, Kepala Bappeda DIY Budi Wibowo saat menjadi narasumber dalam Musrenbang Kota Yogyakarta mengatakan, skema penanganan TPA Piyungan sudah ditetapkan, yaitu penanganan jangka pendek dan jangka panjang.

Penanganan jangka pendek yang akan dilakukan adalah perbaikan infrastruktur dan penyehatan lingkungan di sekitar TPA Piyungan, sedangkan penanganan jangka panjang adalah pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.

“Dokumen pelaksanaan proyek sudah ada dan akan dilelang Bappenas pada Mei,” katanya.

Baca juga: DLH Yogyakarta minta warga gencarkan pengelolaan sampah rumah tangga

Baca juga: Sampah popok bayi sebagai media tanaman hias wakili Yogyakarta


Pewarta : Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar