"Sabha Yowana" dikukuhkan wali kota untuk pelestarian budaya Bali

id Pemkot denpasar, Sabha Yowana,pelestarian budaya

Wali Kota Denpasar Rai Dharmawijaya Mantra lakukan pengukuhan "Sabha Yowana". (FOTO ANTARA/HO-Antaranews Bali/Komang Suparta/IST/2019)

Denpasar (ANTARA) - Wali Kota Denpasar, Bali Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra melakukan pengukuhan kepada Sabha Yowana (kelompok pemuda) Udiyana Graha Santhi, Desa Pakraman Renon sebagai upaya mendukung pelestarian seni, budaya dan tradisi Bali.

"Ini sudah menjadi kewajiban kita bersama, karena itu kami dukung generasi muda agar berkumpul dalam 'Sabha Yowana' ini. Nanti dalam organisasi tersebut mereka akan bertukar pikiran dan membangun kreativitas serta melestarikan seni dan budaya Bali," kata Rai Mantra di Denpasar, Kamis.

Wali Kota Rai Mantra menyambut baik adanya Sabha Yowana dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat ) di Desa Renon. Keberadaan generasi muda sangat erat kaitannya dengan kemajuan Desa Pakraman. Namun demikian kemajuan ini hendaknya memberikan dampak positif terhadap perkembangan tradisi dan kearifan lokal di Bali.

"Generasi muda ini adalah generasi milenial yang sangat mudah dan cepat menerima informasi, dan di sinilah peran Desa Pakraman, Klian Adat serta masyarakat untuk mengarahkan agar generasi muda tidak terjebak dalam hal-hal yang negatif," ujarnya.

Ke depan, Rai Mantra berharap adanya Sabha Yowana  ini mampu menjembatani seluruh STT (sekaa teruna-teruni) se-Desa Renon serta mendukung pembangunan yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman. Dengan demikian Desa Pakraman dapat terus maju dan menjadi sektor penting kemajuan kebudayaan di Bali.

Terkait dengan PHBS, Rai Mantra juga turut memberikan apresiasi. Hal ini lantaran masih banyaknya umat Hindu yang belum paham etika ke pura. Dengan adanya PHBS ini walaupun diimplementasikan dengan tempat suci tangan dapat memberikan edukasi dan pemahaman bagi masyarakat untuk membersihkan diri mulai dari pikiran, perkataan dan perbuatan serta menghindari pura dari cemer atau cuntaka (kotor secara spiritual).

"Dengan demikian maka setiap umat Hindu yang hendak ngaturang bhakti dapat selalu fokus serta memiliki manah suci ning nirmala," katanya sembari mengajak semua pihak untuk mengurangi penggunaan plastik di area suci.

Dalam kesempatan tersebut juga turut dilaksanakan "Karya Pemelaspasan Gedong Ratu Ayu serta peresmian Genah Mewajik" sebagai implementasi dari PHBS di kawasan tempat suci tersebut.

Bendesa (Ketua Adat) Pakraman Renon, I Made Sutama mengatakan bahwa peran serta generasi muda saat ini sangat signifikan dalam pelestarian dan pengembangan seni, budaya dan tradisi Bali. Sehingga ke depannya melalui wadah Sabha Yowana  ini generasi muda memiliki ruang untuk berekspresi, khususnya di tingkat Desa Pakraman.

"Kami berkomitmen untuk menjaga tradisi dan kearifan lokal Bali bersama generasi muda agar tidak mudah terpengaruh hal-hal yang negatif," katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, keberadaan Desa Pakraman Renon yang mewilayahi lima banjar dapat digolongkan sebagai wilayah yang luas. Sehingga diperlukan sinergitas antar semua lini terasuk generasi muda untuk menjaga tradisi dan kearifan lokal Bali.

Selain itu, kata Sutama, pihaknya bahwa saat ini telah terjadi penurunan pemahaman tentang tata krama dalam bersembahyang ke pura.

"Dengan adanya PHBS ini masyarakat dan umat Hindu dapat memahami etika dalam bersembahyang ke pura, termasuk pantangan dan cara bersembahyang yang benar," ujarnya.

Sementara, Ketua Sabha Yowana Desa Pakraman Renon, Kadek Indrawan mengaku senang menjadi angkatan pertama pada Sabha Yowana di Desa Pakraman Renon. Ke depannya memohon bimbingan kepada semua pihak untuk dapat mengabdi kepada Desa Renon, Kota Denpasar hingga Provinsi Bali.

"Kami mengajak seluruh generasi muda di Desa Renon untuk bersatu padu mendukung kemajuan desa serta menjaga kelestarian tradisi dan kearifan lokal kita bersama," katanya.

Baca juga: Gubernur Bali: Desa pakraman ujung tombak pelestari budaya

Baca juga: Sembilan tari Bali jadi warisan budaya dunia

Pewarta : I Komang Suparta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar