Pertamina tambah fasilitas tangki depot LPG Palembang

id Pertamina,LPG,elpiji,subsidi,pso

Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur (LSCI) PT Pertamina (Persero) Gandhi Sriwidodo di Palembang, Kamis (11/4). (Antara News Sumsel/Dolly Rosana/19)

Palembang (ANTARA) - PT Pertamina (Persero) menambah fasilitas Depot LPG Pulau Layang di Kota Palembang sebanyak dua tangki berkapasitas masing-masing 1.500 metrik ton untuk meningkatkan ketahanan stok bahan bakar tersebut.

Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur (LSCI) PT Pertamina (Persero), Gandhi Sriwidodo di Palembang, Kamis, mengatakan Depot LPG tersebut merupakan objek vital nasional yang menjadi tulang punggung bagi distribusi LPG di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).

Terdapat lima provinsi di Sumbagsel, meliputi Sumsel, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung dan Lampung, yang dijaga keandalan stoknya oleh penambahan fasilitas ini.

"Kami menggelontorkan investasi sekitar Rp200 miliar untuk membangun dua tangki tersebut," kata Gandhi yang diwawancarai seusai apel siaga menjelang Pemilu 2019.

Pembangunan fasilitas itu digarap oleh PT Rekayasa Industri (Rekin) selaku perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang konstruksi untuk industri sebagai wujud sinergi BUMN.

Penambahan fasilitas tangki tersebut membuat stok LPG di depot meningkat tiga kali lipat, dari semula 1.250 metrik ton (mt) menjadi 4.250 mt.

Pertamina perlu juga menjaga depot LPG dari potensi gangguan operasional, karena jika terganggu maka akan menyulitkan distribusi LPG ke empat provinsi lainnya di Sumbagsel.

Gandhi mengemukakan konsumsi LPG diproyeksi terus mengalami peningkatan sesuai pertumbuhan ekonomi suatu daerah. "Peningkatannya sesuai dengan pertumbuhan ekonomi saja bisa 5 persen, tetapi kami jamin stok yang ada di Pertamina lebih dari cukup," ujarnya.

Terkait adanya kondisi kelangkaan LPG bersubsidi 3 kilogram di masyarakat, Gandhi menjelaskan, hal tersebut terjadi karena faktor penyalahgunaan. Seperti diketahui kuota LPG 3 kg sudah disesuaikan dengan jumlah masyarakat tak mampu.

"Disadari masih banyak masyarakat yang tidak berhak menggunakan LPG tersebut, seperti rumah makan dan restoran juga masyarakat mampu,” katanya.

Pewarta : Dolly Rosana
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar