KPPPA: Keluarga peroleh layanan konseling puspaga

id indonesia layak anak

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Leny Nurhayanti Rosalin memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/04/2019). (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Keluarga dapat memperoleh layanan konseling untuk masalah kesehatan mental, seperti depresi, di pusat pembelajaran keluarga (puspaga), kata Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Leny Nurhayanti Rosalin.

"Bagi keluarga kita punya puspaga ini juga kita bangun di provinsi, kabupaten, kota, minimal mereka punya satu untuk melayani keluarga ini. Siapa yang ada di sana, bukan dilakukan oleh kader tapi dilakukan oleh tenaga profesional jadi minimum ada dua psikolog yang akan bantu," katanya di Jakarta, Jumat.

Dia menuturkan puspaga dilengkapi minimal dua psikolog untuk membantu kebutuhan keluarga.

Peran psikolog, kata dia, akan membantu pemulihan psikis anggota keluarga, termasuk anak-anak, yang mengalami masalah sehingga mengganggu kesehatan mental atau depresi.

Demikian juga pusat kesehatan masyarakat, kata dia, dapat melakukan penanganan terhadap orang yang terguncang psikisnya, seperti anak-anak yang menjadi korban kekerasan.

Ia menjelaskan psikolog itu juga akan bisa melakukan rujukan seandainya perlu penanganan lebih lanjut untuk pemulihan kondisi nonfisik dari anggota keluarga yang mengalami masalah tersebut.

"(Gangguan, red.) kesehatan mental yang sampai depresi itu bisa kita cegah karena pada saat masih dini sudah kita intervensi dari 'psychological rehabilitation'-nya (rehabilitasi psikologis)," ujarnya.

Ia menjelaskan puspaga memberikan layanan konseling dan informasi, termasuk rujukan dan penjangkauan kepada keluarga-keluarga.

"Karena ada juga keluarga yang tidak dapat pergi ke pusat pelayanan itu karena terkendala beberapa faktor, seperti transportasi dan waktu," kata dia.
 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar