Dari sisi gestur, siapa yang paling berkembang selama debat pilpres?

id sandiaga uno,ma'ruf amin,gestur,bahasa tubuh

Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) serta pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) bersiap mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019) ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)

Jakarta (ANTARA) - Pakar bahasa tubuh Monica Kumalasari pada ANTARA, Sabtu (13/4), mengatakan secara keseluruhan debat pertama hingga kelima, Ma'ruf Amin memperlihatkan perkembangan paling signifikan.

Pada debat perdana, Ma'ruf Amin hanya bicara pada isu-isu tertentu dan lebih sering diam. Kondisinya berubah ketika berada dalam debat antar calon wakil presiden berhadapan dengan Sandiaga Uno.

Dari sisi bahasa tubuh, gerakan yang diperlihatkan oleh ulama 76 tahun itu tersebut cenderung konsisten, tidak keluar dari kebiasaannya.

"Tapi diksi yang dikeluarkan ajaib-ajaib di luar perkiraan masyarakat," ujar Monica.

Saat debat, Ma'ruf melontarkan istilah "10 Years Challenge" hingga "Dewi-Dedi" (Desa Wisata dan Desa Digital).

Satu hal yang mendukung penampilan Ma'ruf adalah pengalamannya yang segudang karena dia memang sudah makan asam garam.

"Dia bisa menyampaikan banyak ide, bukan cuma pernyataan normatif. Tadinya Ma'ruf underdog, tapi dari debat ke debat, kita tidak kecewa," tutur dia.

Dari sisi gestur, Sandiaga Uno yang menuai pujian karena bahasa tubuhnya menunjukkan apa yang diperlihatkan orator-orator hebat dunia. Kekurangan dari Sandiaga adalah soal pengalaman yang relatif lebih sedikit karena usianya masih muda.

"Apa yang disampaikan bahannya masih kurang karena belum ada pengalaman, tapi gestur dan pengendalian emosinya bagus," puji dia.

Baca juga: Hal menarik sepanjang debat, Unicorn hingga "Dewi-Dedi"

Baca juga: Arti usap dagu Jokowi sampai Tusuk Prabowo Sandi

Baca juga: Prabowo disambut pendukungnya usai melaksanakan debat capres

Pewarta : Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar