Sebagian Warga Binaan Lapas Makassar resah belum mencoblos

id pemilu,lapas,makassar

Sejumlah warga penyandang disabilitas memasukkan surat suara ke dalam kotak suara pada Pemilu 2019 di TPS 09 Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (17/4/2019). ANTARA FOTO/Arnas Padda/foc.

Makassar (ANTARA) - Ratusan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Makassar mulai resah karena hingga pukul 12.00 WITA, surat suara belum tersalurkan untuk wajib pilih.

"Kami semua yang belum menyalurkan hak suaranya, pastinya resah karena sudah pukul 12.00 belum juga datang surat suaranya," ujar warga binaan Ilham Arief Sirajuddin di Makassar, Rabu.

Ia mengatakan dirinya merupakan satu dari ratusan warga binaan yang masuk sebagai daftar pemilih tambahan (DPTb) belum menyalurkan hak pilihnya karena surat suara yang belum masuk.

"Ini sekarang kita menunggu sampai jam 12 karena aturannya jam 12 baru pemilih tambahan. Sekarang kalau pemilih tambahan mendaftar jam 12, sekarang belum ada surat suara," kata mantan Wali Kota Makassar dua periode.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas I Makassar Budi Sarwono mengatakan di Lapas terdapat 435 daftar pemilih tambahan (DPTb) dan 84 DPT.

"Sampai siang ini kami masih menunggu surat suara tambahan dari KPU Makassar karena masih banyak yang belum menyalurkan hak pilihnya," katanya.

Dia menyatakan jumlah DPT dan DPTb yang ditetapkan oleh KPU itu tidak sesuai dengan yang diusulkan melalui hasil pendataan berjenjang yang dilakukannya.

Budi mengungkapkan sejak 18 Februari 2019 dirinya mengusulkan 768 DPT dan 195 daftar pemilih sementara (DPS). Namun, pada akhirnya KPU hanya menetapkan 84 DPT dan 103 DPTb pada 8 April 2019.

"Kami terus berkoordinasi dengan KPU hingga 9 April dan keluarlah hasil yang ditetapkan itu. Permasalahan lainnya karena sampai saat ini surat suara tambahan juga belum masuk," ucapnya.*

Baca juga: Mulan Jameela deg-degan tunggu hasil Pilpres

Baca juga: Gubernur NTB pantau TPS gunakan sepeda motor


 

Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar