Menperin yakin industri manufaktur makin menggeliat usai pemilu

id Industri manufaktur,presiden jokowi,petrokimia,arab saudi,Airlangga Hartarto,menperin

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (ketiga kanan) bersama Menteri Pendidikan Tinggi dan Keterampilan Singapura, Ong Ye Kung (kanan) dan Bupati Kendal Mirna Annisa memperhatikan kegiatan workshop yang dilakukan oleh para mahasiswa Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah. ANTARA/Biro Humas Kementerian Perindustrian/aa

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto optimistis akan terjadi peningkatan investasi dan ekspansi di sektor industri manufaktur usai penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Dengan mengimplementasikan peta jalan Making Indonesia 4.0, selain diproyeksi industri dapat tumbuh optimal, juga mendorong kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

"Setelah Pemilu 2019 ini akan banyak proyek prioritas yang akan segera berjalan, termasuk beberapa proyek prioritas seperti industri petrokimia. Selain itu, finalisasi peraturan mengenai mobil listrik dan pemberian insentif bagi industri," kata Menperin lewat keterangannya di Jakarta, Minggu.

Airlangga menerangkan, tren pertumbuhan industri usai pemilu akan terjadi, karena Indonesia adalah negara yang sudah matang dalam penerapan sistem demokrasinya.

Demokrasi yang matang menjadi modal pemerintah dalam menarik investasi dari luar negeri, katanya.

"Optimisme pembangunan yang digaungkan pemerintah saat ini juga penting untuk menarik investasi. Semua sektor industri akan running setelah pilpres dan pileg," paparnya.

Airlangga juga meyakini, kondisi ekonomi, politik, dan keamanan di Indonesia masih tetap stabil dan kondusif, sehingga akan mendukung berjalannya aktivitas usaha atau perindustrian semakin agresif.

"Apalagi, beberapa kebijakan baru akan diluncurkan untuk memudahkan pelaku industri berusaha di Indonesia dan melanjutkan kembali yang sedang terlaksana dengan baik," tegasnya.

Sebelumnya, pada rapat terbatas Presiden Joko Widodo dengan sejumlah menteri Kabinet Kerja disebutkan bahwa Arab Saudi akan berinvestasi di sektor industri petrokimia senilai enam miliar dolar AS atau setara Rp84,31 triliun.

Rencana investasi ini telah dibicarakan oleh Presiden Jokowi dan pihak kerajaan Arab Saudi, saat Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke negara minyak tersebut beberapa waktu lalu.

Arab Saudi ingin melakukan kerja sama untuk menjadikan Indonesia sebagai hub bagi industri petrokimia di Asia Tenggara.

Untuk itu, Presiden Jokoowi menginstruksikan jajaran kementerian dan lembaga pemerintah dan nonkementerian yang terkait agar segera melakukan kajian untuk bisa memudahkan realisasi investasi tersebut.

"Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk memperdalam struktur manufaktur dari sektor hulu sampai hilir," ujar Airlangga.

Sebab, industri petrokimia menghasilkan berbagai komoditas, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri kemasan, tekstil, alat rumah tangga, hingga komponen otomotif dan produk elektronika.

Industri petrokimia juga turut memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Kemenperin mencatat pada 2018, investasi di sektor industri kimia dan farmasi mencapai Rp39,31 triliun.

Selain itu, kelompok industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia menorehkan nilai ekspor sebesar 13,93 miliar dolar AS.

Baca juga: Indef: Stabilitas makro ekonomi terjaga sepanjang Pemilu 2019
Baca juga: Presiden bahas peningkatan kerja sama dengan Arab Saudi di istana


Pewarta : Sella Panduarsa Gareta
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar