BPP akui suara Prabowo-Sandi kalah tipis di Jatim

id BPP Prabowo-Sandi, Prabowo Sandi kalah tipis, kecurangan pemilu,Jokowi Ma;ruf Amin

BPP Prabowo-Sandi Jatim menyampaikan pernyataan pers di Surabaya, Kamis (25/4). (Antara Jatim/ Hanif Nashrullah)

Surabaya (ANTARA) - Badan Pemenangan Provinsi (BPP) untuk pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno mengakui kalah tipis di wilayah Jawa Timur (Jatim) dari pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Jangan tanya berapa prosentasinya. Kami kalah tipis. Tapi kalau terus memverifikasinya bisa menang," kata Ketua BPP Prabowo-Sandi Jatim Soepriyatno dalam jumpa pers di Surabaya, Kamis.

Menurutnya, BPP Prabowo-Sandi Jatim belum bisa memprosentasikan rekapitulasi suara versi "real count" dari kalangan internal, karena banyak formulir C-1 yang dikumpulkan para saksinya di berbagai daerah kabupaten/kota belum sampai.

"Di beberapa tempat pemungutan suara atau TPS di berbagai daerah wilayah Jatim masih dilakukan pemungutan suara ulang sehingga banyak data C-1 belum sampai," ucapnya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jatim tersebut menduga sesuai hasil laporan dari para saksinya di lapangan, banyak terjadi dugaan penggelembungan suara dari pihak pasangan calon presiden lawan di berbagai TPS wilayah Jatim.

"Kecurangannya sangat masif sehingga penting bagi kami untuk mendapatkan data dari formulir C-1 aslinya," ujarnya.

Dia menegaskan para saksinya juga mengungkap banyak kecurangan terkait pemilih pendatang yang menggunakan formulir A-5 di berbagai TPS wilayah Jatim.

Soepriyatno mengaku percaya kepada hasil survei Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) yang menempatkan Prabowo-Sandi menang sebesar 52 persen dari pasangan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Karenanya kami upayakan terus memverifikasi berbagai kecurangan, sehingga kekalahan tipis yang terjadi sekarang bisa kami balik menjadi sebuah kemenangan," katanya.

Pewarta : A Malik Ibrahim / Hanif Nashrullah
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar