Said Aqil prihatin pemahaman agama saat ini tak berdasarkan ilmu

id Said aqil, nuzulul quran, kisruh 22 mei, indonesia damai,kericuhan 22 mei

Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Said Aqil Siradj ditemui di halaman Istana Negara, Jakarta usai menemui Presiden Joko Widodo pada Kamis (9/5/2019). ANTARA/Bayu Prasetyo/aa

Jakarta (ANTARA) - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan saat ini terjadi pemahaman agama yang tidak berdasarkan ilmu di masyarakat sehingga menciptakan kondisi yang dapat meruntuhkan kerukunan bangsa.

"Agama harusnya dijadikan sebagai nilai menciptakan harmoni, agama harus mengedepankan moderasi, melahirkan kerukunan dan kearifan," kata Said Aqil saat peringatan Nuzulul Quran di Kantor Pusat PB NU, Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan saat ini banyak sekali fenomena orang yang baru belajar sedikit tentang agama tiba-tiba sudah didaulat menjadi ulama atau ustadz.

Dia mengatakan Al-Quran menyebutkan agama harus dipegang oleh para ulama yang sudah mumpuni, kalau sudah paham baru dapat memberikan bimbingan kepada umat agar kembali ke jalan yang benar.

"Jadi ulama itu tidak gampang, minmal harus paham Al-Quran dan tafsirnya," kata dia.

Oleh sebab itu PBNU sangat prihatin atas kericuhan 22 mei, dia mengatakan kini saatnya semua masyarakat bermuhasabah dan memandang ke dalam diri sendiri atas peristiwa yang terjadi.

Dia mengajak  masyarakat untuk menyelesaikan perbedaan dengan baik dan bijaksana, bukan justru memaksakan kehendak.

Said Aqil prihatin, kini banyak pihak yang mempolitisasi agama sehingga kata takbir dan tahlil bukan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

"Mari secara terus menerus membangun kesatuan bangsa, hilangkan kebencian dan kedengkian, mari saling menghargai, menghormati untuk menjadi manusia seutuhnya," kata dia.

Baca juga: Polisi harap kericuhan tidak meluas
Baca juga: Anies sebut korban aksi 22 Mei capai 737 orang, 8 orang meninggal
 

Pewarta : Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar