Polisi: Kebakaran di kemah pengungsi di Bosnia cederai 29 orang

id kebakaran kemah pengungsi,migran di Bosnia

Pengungsi dari kota Obrenovac, Serbia berbaring di matras di penampungan di Beograd, Minggu (18/5). Dua pesawat kargo Rusia membawa makanan, generator dan perahu penyelamat mendarat di Serbia sebagai bantuan setelah banjir parah menewaskan 20 orang di negara Balkan tersebut. (REUTERS/Marko Djurica )

Sarajevo (ANTARA) - Dua puluh sembilan migran terluka dalam kebakaran yang merebak Sabtu pagi di perkemahan pengungsi di kota Velika Kladusa, Bosnia barat daya, kata polisi.

Juru bicara polisi setempat Ale Siljdedic mengatakan para korban luka sudah dibawa ke rumah sakit di Velika Kladusa dan kota sebelahnya Bihac menyusul kebakaran di perkemahan Miral, yang digunakan sebagai tempat tinggal sementara sekitar 500 orang migran.

"Pasukan pemadam kebakaran di tempat kejadian segera mengendalikan api, dan penyelidikan akan penyebab kebakaran dapat mulai dilakukan," katanya kepada wartawan Reuters.

Video yang diunggah di media sosial memperlihatkan beberapa orang yang terlihat panik melompat keluar dari jendela perkemahan.

Sekitar 25.000 pendatang dari Asia dan Afrika Utara memasuki Bosnia dari Serbia dan Montenegro tahun lalu, dan sekitar 6.000 orang telah tiba di negara Balkan yang miskin pada tahun ini, menurut lembaga keamanan Bosnia.

Hanya sekitar 3.500 orang yang bisa ditampung di tempat-tempat persinggahan, sehingga ribuan orang lainnya tidur sembarangan.

Kebanyakan dari migran itu memadati Bihac dan Velika Kladusa, yang menurut pihak berwenang sumber-sumber sudah meregang berlebihan. Mereka telah diminta menutup tiga tempat persinggahan dan warga harus pindah ke tempat lain.

Bosnia yang terbelah antarsuku belum membentuk pemerintahan tujuh bulan setelah pemilihan umum. Lembaga-lembaga pemerintah yang menangani para pendatang dan pencari suaka bekerja dengan kapasitas sebagai petugas pelaksana.

Baca juga: ICRC: Migran di Bosnia sekarat
Baca juga: Bosnia tangkap sembilan tersangka penyelundup 140 migran


Sumber:Reuters

 

Pewarta : Maria D Andriana
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar