Legislator: segera bangun huntap korban bencana Sulteng

id NasDem

Anggota DPR-RI Ahmad M Ali meninjau kondisi pengungsi korban gempa dan tsunami di wilayah Kecamatan Sindue, Pantai Barat, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu (Antaranews/Muhammad Hajiji)

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR-RI Ahmad M Ali menyatakan hunian tetap untuk korban bencana gempa, tsunami dan likuefkasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, harus menjadi yang  utama dalam agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pemulihan pascabencana.

“Mereka (warga terdampak) harus diprioritaskan untuk secepatnya difasilitasi hunian tetap dan agenda ekonomi untuk memulihkan mata pencaharian, sesuai dengan master plan rencana induk yang telah ditetapkan," kata Ahmad M Ali, di Jakarta, Senin.

Ketua Fraksi NasDem di DPR-RI itu mengemukakan, meminta semua stakeholder atau pemangku kepentingan yang terlibat dalam agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sulawesi Tengah, agar bisa bersinergi dan mengarusutamakan (maenstreaming) pemenuhan hak-hak korban terdampak yang kehilangan rumah.

Menurut Ahmad M Ali, bencana gempa bumi, tsunami, liquefaksi dan tanah longsor yang menimpah lembah Palu Sulteng sejak tanggal 28 September 2018, sudah berjalan 10 bulan sejak kejadian. “Artinya masyarakat, korban, sudah mengungsi kurang dua bulan lagi satu tahun, harus ada kemajuan yang berarti, paling tidak pemenuhan hak-hak korban disegerakan untuk dipenuhi,”ucap Bendahara Umum DPP NasDem itu.

Baca juga: Jumlah huntap di Palu sesuai jumlah korban yang isi formulir relokasi

Bagi Ahmad M Ali, rehabilitasi kehidupan manusia, terutama korban yang telah kehilangan tempat tinggal harus menjadi skala prioritas. Agenda rekonstruksi, kata dia, bisa mengikuti secara beriringan.

“Agenda pemulihan kehidupan sosial korban terdampak yang kehilangan hunian harus menjadi skala prioritas, infrastruktur dan rekonstruksi lainnya yang bersifat fisik nanti bisa sambil beriringan,” ujarnya.

Mantan Ketua Umum DPW NasDem Sulteng itu menilai, terjadi disparitas (perbedaan) tingkat kehidupan yang agak ekstreme terutama wilayah perkotaan dengan desa yang menjadi zona terdampak bencana. Banyak sekali orang kehilangan mata pencaharian sementara kehidupan sosial bergerak lebih cepat dari kemampuan adaftasi program rehab rekon untuk memenuhi fasilitas sarana kerja.

Baca juga: Pemerintah diminta segera bangun hunian tetap di Sulteng

“Disparitas kehidupan agak ekstreme (tajam) karena kehidupan sosial bergerak cepat ke arah konsumsi normal di tengah produksi dan pekerjaan yang belum pulih," kata dia.

Laporan Bank Indonesia menyebutkan, bahwa kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah sedikit memburuk. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulawesi Tengah pada Februari 2019 mencapai 3,54% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebesar 3,19%. Salah satu penyebabnya adalah dampak bencana yang menyebabkan tenaga kerja kehilangan mata pencahariannya terutama pada sektor pertanian dan perdagangan.
Baca juga: Jumlah huntap di Palu sesuai jumlah korban yang isi formulir relokasi

Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar