BMKG tegaskan puting beliung tak terjadi malam hari

id Puting beliung,awan cb,bmkg aceh,bpbd,angin kencang aceh

Oknum TNI/Polri bersama warga sedang merapikan puing-puing atap rumah usai diterjang puting beliung di Gampong Lambadeuk, Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar, Sabtu (22/6/2019). (BPBD Aceh Besar)

Banda Aceh (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh menegaskan, angin kencang puting beliung yang bersifat berputar dengan pergerakan garis lurus dan memiliki kecepatan lebih dari 45 kilometer per jam tidak terjadi di malam hari.

"Di Bireuen, Aceh pekan lalu (Sabtu, 22/6) kejadiannya sekitar pukul 19.00 WIB. Kalau sudah di atas pukul 19.00 WIB, itu bukan lagi puting beliung. Tetapi badai," ujar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Aceh, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, Rabu.

Ia menjelaskan, fenomena alam yang dikenal dengan puting beliung tersebut cuma terjadi di siang hingga sore hari, dan secara umum ditandai dengan hadirnya awan berwarna abu-abu atau hitam yang disebut juga awan Comulonimbus atau awan Cb di suatu wilayah.

Awal mulanya pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB gumpalan awan Cb ini tumbuh dari awan Cumulus atau awan putih berlapis-lapis, lalu di antara awan tersebut muncul jenis awan yang mempunyai batas tepi sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi di udara seperti bunga kol.

Secara umum awan Cb ini juga menjadi penyebab angin kencang puting beliung yang bisa dilihat dari turunnya hujan lebat disertai kilat atau petir tetapi dengan durasi singkat.

"Kalau puting beliung antara jam 14.00 WIB siang hingga pukul 18.00 WIB sore hari. Jika sudah jam 19.00 WIB ke atas, maka itu angin kencang biasa yang juga disebabkan awan Cb," tegas Zakaria.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen menyatakan, puting beliung telah melanda 11 kecamatan di kabupaten setempat yang terjadi pada Sabtu (22/6) sekitar pukul 23.00 WIB.

Petugas Pusdalops BPBD Bireuen, Yudhi menerangkan, ke-11 kecamatan tersebut, yakni Simpang Mamplam, Pandrah, Jeunieb, Peudada, Jeumpa, Juli, Kota juang, Kuala, Peusangan, Jangka dan Pasang Siblah Krueng.

Puting beliung menjadi penyebab kerusakan di antaranya 62 rumah penduduk, lalu 2 balai pengajian, 1 pesantren, 21 unit tempat usaha warga, dan enam orang masyarakat setempat mengalami luka ringan, katanya merinci.

Baca juga: 21 rumah rusak akibat puting beliung di Aceh
Baca juga: Puting beliung harus diwaspadai Aceh, sebut BMKG


 

Pewarta : Muhammad Said
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar