Ketua DPR: Indonesia harus mampu jadi negara besar pada 2045

id Indonesia 100 tahun kemerdekaan,Indonesia negara besar,Indonesia emas tahun 2045

Ketua DPR: Indonesia harus mampu jadi negara besar pada 2045

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo ketika menerima Pengurus Pengurus Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI), di ruang kerja ketua DPR RI, di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (26/6/2019). (Antaranews/Riza Harahap)

Jakarta (ANTARA) - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menegaskan Indonesia pada usia 100 tahun kemerdekaan, tahun 2045, harus mampu menjadi negara besar yang diperhitungkan dunia internasional.

"Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat harus mempersiapkan diri dan berkontribusi guna membangun Indonesia menjadi negara besar pada 2045," kata Bambang Soesatyo ketika menerima Pengurus Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI), di ruang kerja ketua DPR RI, di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu.

Pengurus INTI yang hadir antara lain Ketua Umum Tedy Sugianto, para Wakil Ketua Umum Haris Chandra, Edi Yansah, dan Budi S Tarawibowo, Sekretaris Jenderal Ulung Rusman, Ketua Bidang Program Beasiswa Pelangi Lim Ko Phing, Ketua Bidang UKM dan Koperasi Hardy, serta Juru Bicara Lexyndo Hakim dan Pujianti.

Baca juga: Ketua DPR imbau tokoh dan elite jadi teladan generasi muda

Menurut Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet, meskipun waktunya masih 26 tahun mendatang, tapi perjalanan menuju 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia akan terus berjalan dan tidak akan mundur ke belakang. "Persiapan tersebut tidak hanya menjadi tugas pemerintah, juga menjadi tugas kita bersama sebagai bangsa Indonesia," katanya.

Bamsoet memperkirakan, pada tahun 2045, penduduk dunia akan mencapai 9,45 miliar jiwa, dan dari jumlah tersebut sekitar 55 persennya berada di Asia. "Besarnya jumlah penduduk dunia, tentu akan meningkatkan urbanisasi, migrasi maupun persaingan dan kompetisi. Bukan hanya antaranegara, tetapi juga antarpenduduk di masing-masing negara yang bersangkutan," ujar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini juga meminta segenap elemen bangsa tetap berada dalam satu garis kebangsaan. Peluang Indonesia menjadi negara adidaya pada 2045, menurut dia, terbuka lebar, sehingga peluang ini jangan sampai terbuang percuma akibat adu domba antarsesama anak bangsa.

"Perjalanan Pemilu 2019 sangat melelahkan dan menjadi ujian besar bagi bangsa Indonesia. Kegaduhan selama proses pemilu sudah cukup dan harus segera diakhiri. Jangan sampai hal ini terulang kembali pada pemilu selanjutnya," katanya.

Baca juga: Ketua DPR: Hilangkan ego kelompok lampaui batas toleransi hukum

Menurut Bamsoet, hal ini sangat penting bagi semua pihak untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, karena Indonesia dibangun oleh masyarakat yang heterogen dari beragam suku, agama, ras, dan golongan. "Indonesia menjadi rumah besar bagi bangsa Indonesia," katanya.

Bendahara Umum DPP Partai Golkar periode 2014-2016 ini menambahkan, perubahan geopolitik juga akan terjadi pada 2045. Peranan Tiongkok dan Asia Timur, kata dia, akan semakin meningkat, sedangkan kawasan Timur Tengah masih rentan terhadap berbagai gejolak.

Oleh karena itu, Bamsoet juga mengapresiasi keberadaan INTI melalui program Beasiswa Pelangi yang memberikan bantuan kepada anak-anak Indonesia untuk menempuh pendidikan di Tiongkok, maupun negara-negara Asia Timur lainnya.

"Pendidikan adalah investasi yang sangat penting dalam mempersiapkan anak-anak Indonesia menghadapi berbagai tantangan dunia yang semakin kompleks. Program Beasiswa Pelangi yang dilakukan INTI patut dicontoh oleh organisasi kemasyarakatan lainnya," tutur Bamsoet.

Bamsoet juga menyebut, ada tiga sektor lainnya yang perlu diperkuat oleh Indonesia yakni pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan dan pemantapan ketahanan nasional serta tata kelola pemerintahan. "Berbagai sektor tersebut sedang dan akan terus ditingkatkan oleh pemerintah bersama DPR RI. Hal ini bisa dilihat dari politik anggaran yang sudah dijalankan pemerintah dan DPR RI pada APBN 2019," katanya.

Pewarta : Riza Harahap
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar