Mantan sekretaris pertahanan, kepala polisi Sri Lanka kembali ditahan

id Sri Lanka,mantan sekretaris pertahanan,Kepala polisi

Polisi menggeledah seorang jemaat di depan pintu masuk utama gereja St. Theresa saat gereja Katolik di Sri Lanka tersebut memulai ibadah Minggu mereka setelah serangan bom pada MInggu Paskah, 21 April lalu, di Kolombo, Sri Lanka, Minggu (12/5/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Dinuka Liyanawatte/djo/foc.

Kolombo (ANTARA) - Mantan sekretaris pertahanan dan kepala polisi Sri Lanka dikembalikan ke penjara pada Rabu sehubungan dengan dugaan bahwa mereka gagal mencegah serangan bom Hari Paskah sehingga menewaskan lebih dari 250 orang.

Hakim pengadilan Kolombo menjadwalkan pemeriksaan pada Selasa, kata Juru Bicara Polisi Ruwan Gunasekera.

Departemen Penyelidikan Pidana pada Selasa menangkap Inspektur Jenderal Polisi Pujith Jayasundara dan mantan sekretaris di Kementerian Pertahanan Hemaisiri Fernando saat mereka berdua menjalani perawatan di rumah sakit.

Keduanya masih berada di rumah sakit yang berbeda di Kolombo tapi berada di bawah pengawasan pejabat penjara, kata Gunasekera. Fernando dilaporkan oleh media menderita sakit dada. Belum ada keterangan mengenai pernyataan Jayasundara.

Pengamanan telah ditingkatkan di kedua rumah sakit tersebut dan sekitarnya, kata beberapa sumber polisi kepada Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Sri Lanka perpanjang status darurat pascaserangan bom jadi tiga bulan

Jaksa Agung Dappula de Livera memerintahkan penangkapan mereka pada Senin dan mendesak penjabat kepala polisi untuk mengajukan tuntutan terhadap keduanya, termasuk "kejahatan terhadap kemanusiaan".

Jayasundara dan Fernando belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar, walaupun keduanya sebelumnya membantah tuduhan ketika mereka tampil di hadapan komite Parlemen yang menyelidiki serangan itu, terhadap gereja dan hotel mewah.

Mereka adalah dua pejabat negara pertama yang ditangkap dengan tuduhan gagal menghalangi serangan tersebut, yang diklaim oleh IS. Pemboman itu berlangsung kendati ada peringatan yang berulangkali disampaikan oleh dinas intelijen India bahwa serangan bisa dilancarkan.

Baca juga: Pemimpin Sri Lanka pecat kepala dinas intelijen

Presiden Maithripala Sirisena telah menuduh Fernando dan Jayasundara gagal untuk menindaklanjuti laporan intelijen tersebut pada 4 April mengenai kemungkinan serangan.

Jayasundara, kepala polisi pertama yang memangku jabatan ditangkap, mengatakan kepada komite parlemen bahwa presiden telah meminta dia menerima tanggung-jawab atas pemboman tersebut dan mundur, dan menjanjikan dia jabatannya akan dikembalikan kepadanya.

Fernando, yang mundur dari jabatan sekretaris pertahanan, mengatakan kepada komite tersebut bahwa Sirisena telah memberi instruksi untuk menjaga Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, tidak menghadiri pertemuan dewan keamanan. Sekretaris pertahanan tersebut melapor ke presiden, yang memimpin Kementerian Pertahanan.

Sirisena belum secara terbuka menangani tuduhan tersebut tapi mengatakan setelah kesaksian bulan lalu bahwa ia takkan menerima kesimpulan komite itu.

Baca juga: Umat Katolik Sri Lanka gelar aksi lilin pengeboman Minggu Paskah

Sumber: Reuters

Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar