Pengamat: Peningkatan ekspor ke China atasi defisit neraca perdagangan

id Pengamat,neraca perdagangan,china

Manggis dari Indonesia dijual para pedagang di Pasar Zuojiazhuang, Beijing, China, dengan harga 60 RMB per 500 gram atau sekitar Rp127.000 per setengah kilogram, Minggu (10/3/2019). (M. Irfan Ilmie)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai upaya pendekatan pemerintah untuk mendorong ekspor nasional ke China dapat mengatasi persoalan neraca perdagangan yang masih mengalami defisit.

Heri dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis, mengatakan, upaya pendekatan ini harus dilakukan karena potensi pasar China saat ini sangat besar dan Indonesia masih mempunyai produk maupun komoditas ekspor unggulan.

"Sebenarnya masih bisa diupayakan berbagai strategi. Jadi yang namanya berdagang atau bekerja sama itu, dalam hal ini, kita konteksnya bersaing, jadi produknya yang bersaing," katanya.

Heri menambahkan, sebagai upaya untuk memulai, pemerintah dapat segera mengidentifikasi produk atau komoditas unggulan dari Indonesia yang bisa dioptimalkan produksinya untuk meningkatkan nilai ekspor nasional.

Menurut dia, optimalisasi produksi tersebut dapat menekan nilai defisit neraca perdagangan dengan China yang telah meningkat hingga mencapai 18,4 miliar dolar AS pada 2018, dibandingkan realisasi pada 2017 sebesar 12,68 miliar dolar AS.

Untuk periode Januari-Juni 2019, ekspor Indonesia ke China juga terpantau turun dari periode sama tahun lalu, yaitu dari sebelumnya sebesar 11,13 miliar dolar AS menjadi 10,34 miliar dolar AS, dengan nilai impor Indonesia dari China justru meningkat dari 35,76 miliar dolar AS menjadi 45,53 miliar dolar AS.

"Artinya dengan perang dagang, China bisa mencari pasar alternatif selain ke Amerika Serikat. Mereka bisa ke Indonesia, India dan negara lainnya," ujar Heri.

Dengan kondisi ini, Heri menyarankan pemerintah untuk lebih cermat menangkap peluang perdagangan, terutama budidaya sejumlah komoditas pertanian yang kerap dianggap sepele oleh penduduk Indonesia agar kebutuhan negara tujuan ekspor dapat dipenuhi.

Ia mengharapkan adanya upaya standar produksi komoditas tanaman agar dapat lebih mudah diekspor ke pasar global, apalagi sejumlah negara seperti China dan Jepang kerap memberlakukan non-tariff measure (NTM) terhadap produk-produk makanan impor.

Secara keseluruhan, menurut dia, China dengan populasi mencapai 20 persen penduduk dunia masih merupakan pasar potensial bagi ekspor nasional yang saat ini mulai terdampak oleh ketidakpastian perekonomian global akibat tingginya tensi perang dagang.

Saat ini, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sedang melakukan kunjungan dagang ke China untuk mendorong ekspor nasional terutama dari produk-produk unggulan seperti CPO, buah-buahan dan sarang burung walet.

Baca juga: Legislator minta Mendag lobi China guna tingkatkan ekspor nasional

Baca juga: Indonesia-China teken MoU pertukaran data guna tingkatkan ekspor impor

Pewarta : Satyagraha
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar