Kadin: penerapan ICT diharap tingkatkan produksi gula

id kadin indonesia,industri gula,konsumsi gula,agroindustri,industri 4.0

Ketua Komite Tetap Bidang ICT Agribisnis Kadin, Andi B. Sirang (kiri) di Jakarta, Rabu. (Kadin Indonesia)

Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai penerapan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ICT) diharapkan dapat mendongkrak produksi gula dan komoditas perkebunan lainnya.

"Dalam hubungan ini, ICT mampu memberikan manfaat dalam menekan tingkat penyimpangan (fraud) dalam perusahaan dan meningkatkan pendapatan perusahaan," kata Ketua Komite Tetap Bidang ICT Agribisnis Kadin, Andi B. Sirang di Jakarta, Rabu.

Andi menjelaskan sejak lama produksi gula ditarget mencapai swasembada. Namun, hingga kini target tersebut belum pernah tercapai. Sementara komoditas perkebunan lainnya yang jumlahnya lebih dari 127 jenis komoditas, baru sekitar 15 komoditas saja yang menghasilkan devisa dan sumbangan yang terbesar berasal dari kelapa sawit.

Menurut dia, salah satu solusi untuk meningkatkan produksi gula adalah pemanfaatan teknologi. Dari petani hingga pelaku usaha harus memiliki kesiapan khusus untuk menerapkan Agroindustri 4.0, terutama aplikasinya pada industri gula serta tanaman perkebunan lainnya.

Pasalnya, kemampuan produksi gula nasional kapasitasnya juga terus merosot dan luas lahan pun terus berkurang, sementara impor semakin naik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-November 2018, impor gula mencapai 4,6 juta ton atau meningkat dibanding periode yang sama pada 2017 sebesar 4,48 juta ton.

Berdasarkan data tersebut, Indonesia berada di urutan pertama negara pengimpor gula terbesar di dunia pada periode 2017-2018 dengan volume impor 4,45 juta ton. Indonesia mengungguli China, yang berada di posisi kedua dengan 4,2 juta ton, dan Amerika Serikat dengan 3,11 juta ton.

Sebagai contoh pada 2018, kebutuhan gula konsumsi tercatat sekitar 2,8 juta ton, tapi total produksi hanya 2,1 juta ton. Sementara kebutuhan gula industri sebesar 3,2 juta ton, yang pemenuhannya selama ini terpaksa dilakukan melalui impor. Jadi total kebutuhan gula konsumsi dan gula industri mencapai 6,0 juta ton.

Ke depan, kata Andi, yang akan banyak membantu dalam upaya peningkatan kerja dan produktivitas adalah IoT (Internet of Things), yang menghubungkan alat dengan internet dan saling terintegrasi. Lebih dari itu dan yang terpenting adalah IoT sangat erat hubungannya dengan Revolusi Industri 4.0, karena IoT adalah unsur utama dalam revolusi industri 4.0.

Ia memaparkan, pada perusahaan manufaktur, IoT digunakan sebagai penghubung antar mesin produksi agar berjalan dengan efisien, juga berfungsi sebagai pemantauan alur produksi agar memiliki manajemen yang lebih baik. Inventarisasi barang pun tidak luput dari disrupsi IoT, hal ini dapat memberikan keterbukaan informasi serta efisiensi alur barang.

Pada kegiatan sektor perkebunan, IoT akan banyak membantu, misalnya untuk memantau keadaan tanaman, rendemen gula pada tanaman tebu, kondisi tanah, informasi kebutuhan hara, cuaca, hingga traktor pintar yang siap memanen hanya melalui smartphone.

"Dengan posisi seperti itu, sektor agroindustri akan sangat terbantu jika seluruh kegiatan mulai dari produksi, pengolahan, distribusi dan pemasaran memanfaatkan industri 4.0 atau penerapannya menjadi Agroindustri 4.0 atau Agribisnis on line," kata Andi.

Kadin berharap kesiapan aplikasi program tersebut bisa dengan cepat diterapkan, agar mampu menekan laju impor seperti pada komoditas gula dan komoditas lainnya, bahkan sebaliknya mampu mendorong peningkatan produksi dan daya saing komoditas.

Baca juga: Pemerintah undang Brasil investasi industri gula di Indonesia
Baca juga: CIPS apresiasi lahirnya 12 pabrik baru industri gula

Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar