Sri Lanka kembalikan 213 peti kemas sampah dari Inggris

id Sri Lanka,Sampah plastik,Pemulangan,kekeringan,musim kemarau,air bersih,dampak kekeringan

Ilustrasi seorang pria membawa barang miliknya dari rumahnya yang rusak setelah tempat pembuangan sampah runtuh dan mengubur puluhan rumah di Kolombo, Sri Lanka, Selasa (18/4/2017). (REUTERS/Dinuka Liyanawatte )

Kolombo (ANTARA) - Sri Lanka telah memerintahkan pengembalian 213 peti kemas dari Inggris setelah menemukan limbah plastik dan biologi termasuk dugaan bagian tubuh manusia di sampah itu, kata beberapa pejabat pemerintah pada Kamis.

Sri Lanka adalah yang paling akhir dari serangkaian negara Asia yang menolak sampah yang dikirim dari negara Barat, setelah China melarang impor barang seperti itu, dan mengganggu arus jutaan ton sampai setiap tahun.

"Ada penyelidikan yang dilakukan dan kami juga telah memberitahu importer agar segera mengirim kembali ke pelabuhan pertama sampah tersebut diekspor," kata Juru Bicara Be-Cukai Sri Lanka Sunil Jayaratne kepada Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam.

Baca juga: Inggris perangi plastik pembungkus produk

"Inggris telah melanggar Konvensi Basel," kata Jayaratne, yang merujuk kepada kesepakatan PBB mengenai perdagangan sampah plastik.

Selama dua bulan belakangan ini, Filipina, Indonesia dan Malaysia semuanya telah memerintahkan pengembalian sampah yang dikirim dari Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Australia dan negara lain.

Sebanyak 180 negara mencapai satu kesepakatan pada Mei untuk mengubah Konvensi Basel guna membuat perdagangan global mengenai sampah plastik dan tindakan yang lebih transparansi dan lebih baik diatur, pada saat yang sama menjamin bahwa penanganannya lebih baik buat kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Amerika Serikat, eksporter utama sampah plastik, belum mensahkan kesepakatan yang berusia 30-tahun itu.

Baca juga: Penyelam Inggris rekam sampah plastik di laut Bali
Baca juga: Menteri Susi ancam "tenggelamkan" pembuang sampah plastik ke laut


Sumber: Reuters

Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar