BKIPM: Fenomena "upwelling" sebabkan kematian ikan Waduk Wadaslintang

id BKIPM Semarang

BKIPM: Fenomena "upwelling" sebabkan kematian ikan Waduk Wadaslintang

Puluhan ikan karamba di Waduk Wadaslintang mati duduga akibat iklim ekstrem. (Humas Pemkab Wonosobo)

Semarang (ANTARA) - Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang mengungkapkan fenomena alam berupa pembalikan massa air atau upwelling telah menyebabkan kematian mendadak puluhan ton ikan nila di Waduk Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

"Berdasarkan hasil uji sampel ikan di Waduk Wadaslintang yang diteliti di laboratorium dan data sekunder, diduga kematian ikan di keramba waduk tersebut disebabkan fenomena upwelling yang terjadi setiap sepuluh tahunan," kata Kepala BKIPM Semarang Raden Gatot Perdana di Semarang, Jumat.

Ia menjelaskan fenomena upwelling itu terjadi ketika suhu permukaan air rendah sehingga massa air di bagian bawah danau lebih hangat dan menghasilkan massa air, baik padat maupun gas di bawahnya, yang naik membawa senyawa beracun dan menyebabkan ikan sulit bernafas karena konsentrasi oksigen minimal.

Menurut dia, kejadian serupa pernah terjadi sekitar awal 2009 dengan tanda-tanda awal yaitu musim kemarau yang panjang, debit air waduk berkurang sampai 50 persen, adanya angin dari arah selatan, serta warna air mulai berubah.

Kematian mendadak puluhan ton ikan di keramba milik petani di Waduk Wadaslintang, tepatnya di wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, itu terjadi sejak Minggu (21/7/2019) malam.

Menindaklanjuti informasi tersebut, BKIPM Semarang merespons dengan melakukan penanganan dan pengambilan sampel ikan dari dua titik keramba yang berada di tengah Waduk Wadaslintang.

Setelah 3-4 hari sejak awak kejadian, kondisi kematian sudah mulai menurun dengan jenis ikan yang mati yaitu ikan nila dengan ukuran 1-2 ekor per kilogram atau usia panen dengan masa pemeliharaan 3,5 bulan.

Untuk mengantisipasi kematian ikan di berbagai wilayah akibat fenomena upwelling, BKIPM Semarang mengimbau masyarakat pembudi daya keramba jaring apung agar cermat dan rutin menguji kualitas air sebagai prasyarat lingkungan untuk budi daya ikan.

Kemudian, mengatur kepadatan tebar dan segera melakukan pemanenan dan penarikan jaring keramba ke tepi apabila mulai terjadi perubahan cuaca yang ekstrem.

Baca juga: Puluhan ton ikan di Waduk Wadaslintang mati
Baca juga: Kemarau, air Waduk Gonggang Magetan volumenya alami penyusutan
Baca juga: BKIPM pastikan kematian ikan Waduk Kedungombo karena "upwelling"
 

Pewarta : Wisnu Adhi Nugroho
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar