Dubes Tantowi bangga putri Papua jadi pilot

id Dubes Tantowi bangga puteri Papua jadi pilot

Penerbangan Khusus Garuda Hari Kartini Kapten pilot Garuda Indonesia Ida Fiqria (kiri) dan kopilot Sari Ardisa (kanan) berpose sebelum lepas landas menuju bandara Minangkabau di bandara internasional Soekarno - Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (21/4/2017). Vanda Korisano dan Martha Itaar, dua putri Papua akhirnya diterima menjadi pilot Garuda Indonesia. (ANTARA /Fajrin Raharjo)

Jayapura (ANTARA) - Duta Besar (Dubes) RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga Tantowi Yahya merasa bangga dua mahasiswi asal Papua dan Papua Barat yang menempuh pendidikan di negeri Kiwi dapat menjadi pilot pertama pada maskapai penerbangan top di Indonesia.

"Dua mahasiswi tersebut yakni Vanda Korisano dan Martha Itaar, di mana keduanya tiba di negeri Kiwi pada 2014," katanya kepada ANTARA di Jayapura, Senin.

Menurut Dubes Tantowi, keduanya adalah mahasiswi asal Bumi Cenderawasih dari sekitar 150 orang pelajar dan penerima beasiswa dari dana Otonomi Khusus (Otsus) Pemerintah Provinsi Papua yang menempuh pendidikan di Nelson Aviation College, Selandia Baru.

"Keduanya berhasil mengejar mimpinya menjadi pilot pertama puteri Papua di maskapai terbesar Indonesia, Garuda Indonesia per Juni
2019, di mana Vanda diterima sebagai pilot di Garuda Indonesia, sedangkan Martha diterima di Citilink," ujarnya.

Dia menjelaskan dalam setiap pertemuan dengan para pelajar dan mahasiswa Indonesia termasuk dari Papua, pihaknya senantiasa mendorong agar generasi muda ini dapat belajar dengan tekun, berprestasi dan kelak dapat memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara.

Senada dengan Tantowi Yahya, Marveys Ayomi Pengajar di International Pacific University (IPU) New Zealand yang selama ini menjadi mentor para mahasiswa Indonesia di kampus dan sebagai orang tua atau penanggung jawab mahasiswa Papua di Selandia Baru dalam pesannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Dubes Tantowi serta jajaran di KBRI Wellington atas upayanya dalam membantu dan memberikan perhatian kepada para mahasiswa Papua selama mereka menempuh pendidikan di negeri Kiwi tersebut.

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Ari Askhara mengatakan rasa bangganya dapat merekrut puteri Papua terbaik, hal ini membuktikan bahwa siapapun bisa menjadi pilot asalkan berprestasi dan mampu.

"Untuk menjadi bagian dari cockpit crew Garuda Indonesia Group harus melewati standar kualifikasi yang tinggi dan proses yang panjang sehingga diharapkan langkah yang dibuat Vanda dan Marta dapat menjadi lokomotif penarik putera atau puteri Papua lainnya di Garuda Indonesia," katanya.

Sekadar diketahui, Vanda dan Marta yang tiba di Selandia Baru pada 2014, tercatat pernah mendapatkan penghargaan sebagai penerbang terbaik sepanjang tahun untuk mahasiswa internasional (best all round flying performance for international students).

Keduanya mendapatkan sertifikasi berupa Private Pilot License, Commercial Pilot License dan Multi Engine Instrument Rating, di mana setelah lulus dari Selandia Baru pada awal Januari 2018, Vanda dan Martha memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Penerbangan Ganesha, Jakarta.

Lalu keduanya mendapatkan sertifikasi Indonesian DGCA Pilot License, di mana pada Juni 2019, kerja keras dan perjuangan keduanya akhirnya terbayarkan, mimpinya untuk menjadi pilot maskapai terbesar Indonesia, Garuda Indonesia.

Baca juga: Pemkab Jayawijaya biayai penduduk asli sekolah pilot
Baca juga: Putra Supiori-Papua ikut pendidikan sekolah pilot di Bogor
Baca juga: Presiden dukung pendirian sekolah penerbangan di Papua

 

Pewarta : Hendrina Dian Kandipi
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar