KLHK ajak milenial berperan dalam konservasi SDA

id Konservasi, KLHK,milenial

Peluncuran buku Panduan Identifikasi Jenis Satwa Liar yang Dilindungi untuk Hertefauna, Mamalia, Burung oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di rangkaian Jambore Nasional Konservasi Alam di Taman Wisata Alam Muka Kuning, Batam, Senin (5/8/2019). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Batam (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengajak para milenial berperan lebih besar dalam mendukung upaya konservasi sumber daya alam di Indonesia.

“Milenial itu sebenarnya punya peran penting untuk konservasi. Untuk generasi muda milenial, saya minta dukung konservasi, praktik wisata alam yang bertanggung jawab, baik itu di gunung, pantai, dan dalam laut,” kata Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno saat membuka Jambore Nasional Konservasi Alam di Taman Wisata Alam Muka Kuning, Batam, Senin.

Dia mengatakan banyak di antara generasi muda yang sudah menjadi contoh ikut melakukan konservasi sumber daya alam (SDA) di Indonesia.

Di antara mereka, katanya, ada yang ikut menjadi relawan termuda membuat 100 sumur bor di lahan gambut Tumbang Nusa, Kalimatan Tengah, untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan gambut.

Selain itu, menjadi dokter hewan dan ikut merehabilitasi harimau sumatra di Dharmasraya, Sumatera Barat.

“Mereka bekerja dalam kesenyapan, tapi hasilnya luar biasa,” katanya.

Yang lain, menurut dia, juga bisa ikut terlibat, termasuk hanya dengan memanfaatkan media sosial yang menjadi salah satu cara diseminasi konservasi alam yang efektif.

“Kita kemarin bisa mengumpulkan 3.000 jerat, 1.500 di kawasan konservasi dan 1.500 di luar kawasan konservasi. Dengan HP (telepon genggam) generasi milenial bisa ikut melakukan konservasi dengan kampanye melawan jerat ini,” ujar dia.

Kepedulian milenial pengguna sosial media terhadap satwa liar, seperti harimau yang terkena jerat, disebut dia, begitu luar biasa.

Baru diunggah informasi harimau sumatra oleh tim media sosial Ditjen KSDAE, katanya, langsung ribuan yang “like”.

“Artinya kepedulian generasi muda meningkat pesat terhadap isu konservasi,” ujar dia.

Namun demikian, Wiratno mengingatkan bahwa media sosial juga banyak dimanfaatkan untuk melakukan perdagangan satwa liar.

“Kita pantau kejahatan siber itu. Karenanya stop perdagangan satwa liar, 'stop bullying' satwa liar,” katanya.

Bersama Polda Jatim, pihaknya telah berhasil menggagalkan perdagangan enam anak komodo.

Ia mengatakan kerja sama dengan Bareskrim dan semua jajaran juga menangani transaksi perdagangan satwa liar dengan membongkar isi transaksi menggunakan telepon gengam.

Dengan Polda Kepulauan Riau, katanya, Tim Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum LHK) hingga Juni 2019 sudah menggagalkan penyelundupan satwa liar, mengingat Batam salah satu pintu keluar masuknya satwa liar tersebut.

Pembukaan Jambore Nasional Konservasi Alam di Taman Wisata Alam Muka Kuning, Batam, diikuti setidaknya 300 peserta yang di antaranya pelajar SMP dan SMA. Kegiatan yang dilaksanakan pada 5-8 Agustus itu sekaligus memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2019.

Baca juga: Enam landak jawa menjadi penghuni baru Taman Alam Danau Buyan
Baca juga: 6 komodo yang berhasil diamankan akan dilepasliarkan di Pulau Ontoloe
Baca juga: Dukung konservasi alam Kepulauan Seribu, BUMN reasuransi tanam mangrove dan transplantasi terumbu karang

 


Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar