Pengamat: Benahi dulu destinasi wisatanya, sebelum dipasarkan

id Storynomics tourism,Pariwisata,Destinasi wisata,Kemenpar

Sejumlah wisatawan asing berada di tepi pantai Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Minggu (14/7/2019). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc

Jakarta (ANTARA) - Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari menyebutkan pemerintah seharusnya membenahi terlebih dahulu destinasi wisatanya, sebelum dipasarkan atau diperkenalkan ke dunia luar.

Menurutnya, formula pengembangan destinasi wisata super prioritas dengan pendekatan storynomics tourism, yang dilakukan pemerintah bukan merupakan metode yang tepat untuk menarik wisatawan.

“Ini kan marketing dengan mengeskplor daerah tersebut, karenanya benahi destinasinya dulu atau produknya baru diangkat dengan story telling ini,” katanya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Azril mengatakan sektor pariwisata Indonesia memiliki daya saing yang lemah karena terdapat beberapa hal yang belum dibenahi secara maksimal seperti keamanan dan keselamatan, kesehatan dan kebersihan, lingkungan, kualitas infrastruktur, informasi, dan komunikasi.

“Contoh saja kalau untuk kesehatan dan kebersihan kan sanitasinya kurang, banyak toilet di tempat-tempat wisata masih sangat tidak layak,” ujarnya.

Ia pun memberikan pembanding seperti wisata di Malaysia dan Thailand yang dianggap jauh lebih baik karena dari segi informasi pelayanan destinasi wisata sudah ada dan sangat memadai ketika para wisatawan baru tiba di bandara.

“Infrastruktur untuk mendapat informasi pariwisata saja kita masih sangat kurang. Kita mau ke airport saja tidak ada brosur atau apa saja petunjuk wisata,” katanya.

Azril mengatakan bahwa pembenahan terhadap hal tersebut berhubungan dengan dasar-dasar dari produk pariwisata seperti akomodasi, daya tarik, destinasi, dan event. Menurutnya, pemerintah melalui pendekatan storynomics hanya mengedepankan aspek daya tarik dan destinasi.

“Harus seimbang karena dasar produk pariwisata tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, mereka saling mendukung,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pemerintah seharusnya tidak hanya menonjolkan keunikan dan keaslian budaya dari suatu daerah untuk dijadikan destinasi wisata super prioritas tanpa memperbaiki dan mengembangkan aspek-aspek pendukung lainnya secara optimal.

“Bagaimana bisa wisatawan datang jika aspek pendukung seperti lingkungan, fasilitas, dan lain sebagainya masih sangat kurang. Perbaiki saja dulu kelemahan kita, pasti pengunjung akan tertarik untuk datang,” katanya.

Baca juga: Dispar optimistis 2,8 juta wisman kunjungi Kepri
Baca juga: Kemenpar revisi target jumlah wisman jadi 18 juta orang tahun ini
Baca juga: Menteri Pariwisata : Danau Toba dapat dana infrastruktur Rp1,6 triliun

Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar