ADEI: Modal asing bantu startup Indonesia jadi unicorn

id Modal asing, investasi, e-commerce, ADEI, startup, unicorn

Dosen Universitas Prasetiya Mulya Suherman Widjaja yang juga anggota Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI). (ANTARA/Ade Irma Junida)

Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) menyebut modal asing yang menyuntikan dana ke perusahaan rintisan atau startup Indonesia telah berhasil membuat mereka menjadi unicorn.

“Pastinya kalau tidak dibuka untuk investor asing masuk, ya unicorn ini tidak akan pernah ada di Indonesia. Yang ada hanya startup,” kata Perwakilan ADEI Suherman Widjaja, di Jakarta, Rabu.

Menurut Suherman, banyak pihak belum jeli melihat ide-ide perusahaan rintisan yang saat ini terus berkembang, terutama dari kalangan lokal. Terlebih, model bisnis startup masih relatif baru.

Sementara itu, investor luar negeri justru melihat hal tersebut sebagai peluang sehingga mereka berani masuk dan menanamkan modal kepada para startup.

“E-commerce, startup, itu rata-rata disebut ‘membakar uang’ yang ujung-ujungnya rugi. Kalau rugi, untuk apa berbisnis. Nah, pemodal di Indonesia belum terbiasa dengan itu, tapi di luar negeri itu sudah biasa dan kebetulan di sana sudah siap dananya,” katanya.

Dengan suntikan modal asing itulah, lanjut Dosen Universitas Prasetiya Mulya itu, yang membuat startup bisa tumbuh besar dalam waktu singkat. Padahal, startup merupakan bisnis yang rentan jika tanpa sokongan modal.

Kendati modal asing memiliki dampak positif, Suherman menyebut ada sisi negatif dari masuknya aliran dana asing lewat startup-startup tersebut. Salah satunya adalah kekhawatiran hasil usaha startup yang dibawa ke luar negeri karena pemegang sahamnya yang berada di luar negeri.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar pemerintah memastikan hasil usaha startup bisa bermanfaat di Indonesia dan bagi masyarakat Tanah Air.

“Ini peran pemerintah supaya hasil usaha tidak dibawa ke luar negeri karena itu potensi pasar di Indonesia. Jangan sampai sudah dikumpulkan ‘e-commerce’, tapi hasil usahanya dibawa ke luar negeri karena pemegang sahamnya di luar negeri, ini harus dijaga agar hasil usahanya tetap di Indonesia dan diputar di Indonesia,” katanya.

Baca juga: Dua perusahaan rintisan Indonesia unjuk potensi di China
Baca juga: Kemenperin lahirkan 'startup' kerajinan dan batik

 


Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar