Jakarta (ANTARA Jogja) - Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengatakan regenerasi petani sangat memprihatinkan.

"Jumlah petani terus menurun. Pada 2011 turun 2,16 juta orang, atau 5,2 persen, menjadi 39,33 juta orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 41,49 juta orang," kata Ketua BPO HKTI Mohammad Jafar Hafsah dalam acara perayaan hari ulang tahun ke-39 HKTI di Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat.

Sementara itu, lanjut Jafar, jumlah petani gurem justru mengalami peningkatan, terutama sejak 1993 hingga 2003.

"Dalam jangka waktu sepuluh tahun (1993--2003), jumlah petani gurem meningkat dari 10,8 juta menjadi 13,7 juta orang. Petani gurem ini mengolah tanah garapannya dibawah 0,5 hektare," kata Jafar.

Jafar mengakan berdasarkan hasil proyeksi Serikat Petani Indonesia (SPI) pada tahun 2008, jumlah petani gurem mencapai 15,6 juta orang.

Selain itu, kata dia, hasil penelitian Perhimpunan Sarjana Petani Indonesia menunjukkan ketersediaan petani pada saat ini di lumbung-lumbung pertanian didominasi oleh struktur usia 45 tahun ke atas.

Menurut Jafar, krisis petani muda banyak terjadi di Cianjur (Jawa Barat), Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi.

"Secara mencolok, penurunan yang terjadi pada kelompok usia 24 sampai 45 tahun mencapai 1,3 juta orang antara 2003 dan 2004," kata Jafar.

Dalam perayaan HUT Ke-39 HKTI hari ini, hadir pula Ketua Dewan Pertimbangan Nasional (DPN) HKTI Prabowo Subianto, anggota DPR RI sekaligus Ketua Panitia Pelaksana HUT HKTI Fary Djemy Francis, DPP Pemuda Tani Indonesia, serta beberapa mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).

(R027)