Bantul (Antara Jogja) - Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta akan mengembangkan tanaman sorgum pada lahan seluas 400 hektare.
"Bantul pada 2013 diberi anggaran dari Kementerian Pertanian untuk pengembangan tanaman sorgum 400 hektare, meneruskan program tahun lalu seluas 50 hektare," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul, Edy Suhariyanta, Senin.
Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan komoditas pangan. Tanaman biji-bijian ini manfaatnya antara lain sebagai sumber pangan dan pakan ternak. Bijinya mengandung karbohidrat cukup tinggi.
Tanaman ini juga merupakan salah satu bahan baku berbagai industri, seperti gula cair (sirup), etanol, lem, cat, dan kertas.
Menurut Edy, untuk pengembangan sorgum di daerah ini anggarannya bukan dari Ditjen Tanaman Pangan, tetapi dari Ditjen Sarana dan Prasarana Kementan karena terkait bidang pangan yang fokus pada peningkatan produksi beras 10 juta ton.
"Pada program ini ada penambahan areal tanam hingga 400 hektare, setiap hektare kelompok petani mendapat anggaran sebesar Rp2,5 juta untuk membuka lahan dan pengadaan sarana produksi berupa benih dan pupuk," katanya.
Ia mengatakan, perluasan lahan sorgum bentuknya pembukaan lahan dari lahan tidur atau setengah tidur yang tidak pernah ditanami tanaman pangan. Lahan itu diolah atau dibajak sehingga bisa ditanami tanaman semusim khususnya sorgum.
"Kami mendapat penjelasan dari Kementan bahwa program ini hanya di Bantul. Sebenarnya Kabupaten Gunung Kidul pada 2010 memiliki potensi lahan sorgum ukup luas, namun realisasinya relatif kecil sehingga lebih percayakan ke daerah ini," katanya.
Ia mengatakan, dalam pengembangan tanaman sorgum, Bantul akan memanfaatkan lahan yang cukup luas di bantaran sungai yang sudah bertahun-tahun tidak terkena banjir dan hanya ditumbuhi rumput. Lokasinya berada di beberapa kecamatan.
"Lahan yang paling luas terdapat di Desa Poncosari, Srandakan seluas 200 hektare dan untuk menggenapi 400 hektare kami telah menemukan lahan di Kecamatan Sedayu, Bambanglipuro, Pleret, Imogiri dan Pajangan, rata-rata 20-an hektare," katanya.
Menurut dia, tanaman sorgum mudah dikembangkan di lahan kurang produktif, bahkan seperti saat ini dari lahan seluas 50 hektare, seluas 20 hektare di antaranya di bantaran sungai, kemudian sisanya 30 hektare di lahan pasir.
"Menanam sorgum relatif mudah, setiap satu kali tanam bisa dipanen tiga kali dalam setahun dengan sistem tebas kemudian disisakan batang bawah. Ini memiliki keunggulan dibanding membudidayakan tanaman tebu," katanya.
(KR-HRI)
"Bantul pada 2013 diberi anggaran dari Kementerian Pertanian untuk pengembangan tanaman sorgum 400 hektare, meneruskan program tahun lalu seluas 50 hektare," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul, Edy Suhariyanta, Senin.
Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan komoditas pangan. Tanaman biji-bijian ini manfaatnya antara lain sebagai sumber pangan dan pakan ternak. Bijinya mengandung karbohidrat cukup tinggi.
Tanaman ini juga merupakan salah satu bahan baku berbagai industri, seperti gula cair (sirup), etanol, lem, cat, dan kertas.
Menurut Edy, untuk pengembangan sorgum di daerah ini anggarannya bukan dari Ditjen Tanaman Pangan, tetapi dari Ditjen Sarana dan Prasarana Kementan karena terkait bidang pangan yang fokus pada peningkatan produksi beras 10 juta ton.
"Pada program ini ada penambahan areal tanam hingga 400 hektare, setiap hektare kelompok petani mendapat anggaran sebesar Rp2,5 juta untuk membuka lahan dan pengadaan sarana produksi berupa benih dan pupuk," katanya.
Ia mengatakan, perluasan lahan sorgum bentuknya pembukaan lahan dari lahan tidur atau setengah tidur yang tidak pernah ditanami tanaman pangan. Lahan itu diolah atau dibajak sehingga bisa ditanami tanaman semusim khususnya sorgum.
"Kami mendapat penjelasan dari Kementan bahwa program ini hanya di Bantul. Sebenarnya Kabupaten Gunung Kidul pada 2010 memiliki potensi lahan sorgum ukup luas, namun realisasinya relatif kecil sehingga lebih percayakan ke daerah ini," katanya.
Ia mengatakan, dalam pengembangan tanaman sorgum, Bantul akan memanfaatkan lahan yang cukup luas di bantaran sungai yang sudah bertahun-tahun tidak terkena banjir dan hanya ditumbuhi rumput. Lokasinya berada di beberapa kecamatan.
"Lahan yang paling luas terdapat di Desa Poncosari, Srandakan seluas 200 hektare dan untuk menggenapi 400 hektare kami telah menemukan lahan di Kecamatan Sedayu, Bambanglipuro, Pleret, Imogiri dan Pajangan, rata-rata 20-an hektare," katanya.
Menurut dia, tanaman sorgum mudah dikembangkan di lahan kurang produktif, bahkan seperti saat ini dari lahan seluas 50 hektare, seluas 20 hektare di antaranya di bantaran sungai, kemudian sisanya 30 hektare di lahan pasir.
"Menanam sorgum relatif mudah, setiap satu kali tanam bisa dipanen tiga kali dalam setahun dengan sistem tebas kemudian disisakan batang bawah. Ini memiliki keunggulan dibanding membudidayakan tanaman tebu," katanya.
(KR-HRI)