Denpasar (ANTARA Jogja) - Guru Besar Universitas British Colombia, Kanada Michael Tenzer menilai instrumen gamelan Bali kuno dan pra-Hindu seperti gambang, selonding, dan caruk kini kurang mendapat perhatian dan minat dari masyarakat.
"Hal itu akibat sulit dan sukar menguasai nilai-nilai adat istiadat pada masa sekarang karena semua pengalaman sehari-hari seolah-olah bersaing hal tersebut," kata kata Prof.Dr. Michael Tenzer mengomentari buku yang ditulis I Wayan Sinti, M.A. di Denpasar, Sabtu.
Buku berjudul Gambang, cikal bakal kerawitan Bali setebal 160 halaman yang ditulis sosok seniman I Wayan Sinti telah diluncurkan yang mendapat apresiasi positif dari seniman dan budayawan di daerah ini.
Michael Tenzer yang juga mantan Direktur Gamelan Sekar Jaya Amerika Serikat itu menjelaskan bahwa setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menghadapi masalah sehari-hari yang cenderung semakin berat dan komplek.
Oleh sebab itu, banyak di antara masyarakat yang dikalahkan oleh apresi hidup modern dan hanya beberapa orang yang mempunyai kemampuan yang benar-benar mempertahankan kehidupan yang berlandaskan susila dan rendah hari.
Sosok Wayan Sinti yang pernah menjadi dosen pada University of Washington School of Music Amerika Serikat merupakan salah satu di antara mereka.
Michael Tenzer menilai Wayan Sinti (69), pria yang lahir di Banjar Dauh Kutuh Desa Ubung Kaja Kota Denpasar, adalah seorang seniman gamelan yang terbaik dimiliki Bali.
"Hal itu berkat yang bersangkutan penabuh yang tiada duanya, atau sejak 1978 telah menciptakan kreasi gamelan yang bermutu tinggi, serius, dan kaya dengan motif-motif berwawasan intelektual tinggi," ujar Michael Tenzer.
Karya-karya yang bisa dinikmati masyarakat internasional, antara lain Gegitaan Wilet Mayura (1982) dan lelambatan tabuh empat lokarya (1993), sehingga sosok Wayan Sinti adalah mahaguru yang banyak melatih generasi penerus di Bali maupun di tingkat internasional.
Hal tersebut, menurut Michael Tenzer Sinti memiliki kelebihan dalam mewujudkan nilai-nilai berkesenian yang sangat luhur dan jarang ditemui pada masa sekarang.
Nilai-nilai itu berupa kerendahan hati yang diwariskan pada karya-karyanya dan cara hidup yang sederhana dalam mengabdikan diri di tengah lingkungan masyarakat.
Ia mengatakan sosok Wayan Sinti adalah pemikir yang andal, tidak hanya mengagumi hal-hal yang baru, tetapi juga mempertimbangkannya secara teliti, tutur Michael Tenzer. (I006)