Cilacap (ANTARA Jogja) - Stasiun Meteorologi Cilacap memprakirakan tinggi gelombang maksimum di perairan laut selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai empat meter pada Jumat (13/4).

"Besok (13/4) diprakirakan merupakan puncak peningkatan tinggi gelombang di perairan laut selatan Jateng-DIY karena tinggi gelombang maksimum dalam beberapa hari terakhir mencapai 3,5 meter meskipun sempat turun ke tiga meter pada Selasa (10/4)," kata prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Kamis.

 Menurut dia, peningkatan tinggi gelombang itu akibat meningkatnya kecepatan angin yang bertiup di atas wilayah perairan selatan Jateng-DIY, dan bukan karena gangguan tropis.

Mengenai prakiraan tinggi gelombang pada Jumat (13/4), dia mengatakan, tinggi gelombang maksimum di wilayah pantai selatan Jateng-DIY adalah berkisar 0,75-3 meter dengan tinggi gelombang signifikan 0,75-2 meter dan kecepatan angin 5-15 knot yang bertiup dari timur hingga tenggara.

 Di wilayah Samudera Hindia selatan Jateng-DIY, kata dia, tinggi gelombang maksimum diprakirakan mencapai 2-4 meter dengan tinggi gelombang signifikan 1,25-2,5 meter dan kecepatan angin 15-25 knot yang bertiup dari timur hingga tenggara.

"Peningkatan tinggi gelombang tersebut diprakirakan hanya berlangsung selama satu hari, selanjutnya kembali mengalami penurunan," katanya.

Dia mengimbau, nelayan berperahu kecil untuk berhati-hati dan tetap waspada terhadap datangnya gelombang tinggi saat melaut.

Selain itu, kata dia, wisatawan tidak mandi atau berenang di pantai yang terhubung langsung dengan laut lepas.

Disinggung mengenai prakiraan cuaca selama satu pekan ke depan, Teguh mengatakan, secara umum diprakirakan berawan dan berpeluang hujan ringan hingga sedang dan kadang disertai petir antara siang hingga pagi hari.

Menurut dia, kondisi cuaca di wilayah Jateng khususnya bagian selatan hingga saat ini masih dipengaruhi pemanasan lokal yang signifikan sehingga memicu pertumbuhan awan-awan Cumulonimbus (Cb) meskipun belum dominan.

"Pertumbuhan awan Cb yang signifikan diprakirakan akan terjadi pada Mei di saat masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau sehingga berpeluang besar mengakibatkan terjadinya angin puting beliung," katanya.

Kendati kemunculan awan-awan Cb belum dominan, dia mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap puting beliung karena angin itu bersifat lokal.

Selain itu, kata dia, masyarakat waspada terhadap petir karena intensitasnya masih tinggi dan diprakirakan terjadi setiap hari. (U.KR-SMT)


Pewarta :
Editor : Agus Priyanto
Copyright © ANTARA 2026