Yogyakarta (Antara Jogja) - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta Subandrio menegaskan karakter Gunung Merapi di perbatasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah, tidak pernah berubah.
"Karakter Gunung Merapi tidak pernah berubah, dan peningkatan angtivitas Merapi pasti didahului dengan peningkatan aktivitas magmatik," kata Subandrio pada "talk show" peluncuran Gerakan "Nasi Bungkus Merapi" di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, saat ini status aktivitas Gunung Merapi masih normal dan tidak ada peningkatan aktivitas magmatik.
"Letusan freatik beberapa waktu lalu, yang berperan akibat curah hujan yang tinggi, sehingga menimbulkan tekanan gas di kawah Merapi," tuturnya.
Ia mengatakan, ketika tekanan keras maka banyak membawa material padat, karena hancuran dari material erupsi 2010 yang terkena embusan gas yang kuat.
"Material tersebut merupakan hancuran lama dan tidak panas, hanya sekitar 35 derajat celsius. Kalau material awan panas, maka kondisi panas sampai berminggu-minggu masih di atas 300 derajat celsius," ucapnya.
Subandrio mengatakan, Merapi merupakan gunung api yang menghasilkan variasi letusan yang banyak.
"Letusan freatik juga sering terrjadi, cuma erupsi 2010 gas sangat tinggi dan setelah itu juga masih tinggi," ujarnya.
Ia juga membantah jika erupsi 2010 meleset dari prediksi, sehingga jatuh banyak korban.
"Erupsi 2010 justru merupakan prediksi terbaik dan sudah diprediksi sejak 2009," tukas dia.
Pada 2009 sudah ditandai gempa vulkanik dalam yang terjadi terus menerus, menandakan magma mau naik.
"Saat ini kami perkirakan akan terjadi erupsi, sehingga pelatihan penanggulangan bencana langsung dilakukan," katanya.
Ia mengemukakan, pada 2010 gempa mulai meningakat dan gunung mulai membengkak, mulai Januari, Maret, April hingga akhirnya pada September status di naikkan menjadi "waspada" pada 20 September.
"Bahkan kondisi terus meningkat gempa sudah melampaui kondisi `awas` pada 2006, tetapi belum keluar lava. Ini aneh, kemudian dianalisis sejarah Merapi dan ini diperkirakan akan terjadi erupsi besar," paparnya.
Menurut dia, prediksi bukan sekadar memperkirakan kapan akan terjadi erupsi, tetapi tipe letusannya, karena variasinya banyak.
"Keberhasilan dalam mitigasi bencana adalah satu faktor saja, untuk mengurangi risiko bencana. Kasus 2010, meski prediksi sudah bagus, namun komunikasi kepada warga yang menjadi kendala," katanya.
(V001)
"Karakter Gunung Merapi tidak pernah berubah, dan peningkatan angtivitas Merapi pasti didahului dengan peningkatan aktivitas magmatik," kata Subandrio pada "talk show" peluncuran Gerakan "Nasi Bungkus Merapi" di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, saat ini status aktivitas Gunung Merapi masih normal dan tidak ada peningkatan aktivitas magmatik.
"Letusan freatik beberapa waktu lalu, yang berperan akibat curah hujan yang tinggi, sehingga menimbulkan tekanan gas di kawah Merapi," tuturnya.
Ia mengatakan, ketika tekanan keras maka banyak membawa material padat, karena hancuran dari material erupsi 2010 yang terkena embusan gas yang kuat.
"Material tersebut merupakan hancuran lama dan tidak panas, hanya sekitar 35 derajat celsius. Kalau material awan panas, maka kondisi panas sampai berminggu-minggu masih di atas 300 derajat celsius," ucapnya.
Subandrio mengatakan, Merapi merupakan gunung api yang menghasilkan variasi letusan yang banyak.
"Letusan freatik juga sering terrjadi, cuma erupsi 2010 gas sangat tinggi dan setelah itu juga masih tinggi," ujarnya.
Ia juga membantah jika erupsi 2010 meleset dari prediksi, sehingga jatuh banyak korban.
"Erupsi 2010 justru merupakan prediksi terbaik dan sudah diprediksi sejak 2009," tukas dia.
Pada 2009 sudah ditandai gempa vulkanik dalam yang terjadi terus menerus, menandakan magma mau naik.
"Saat ini kami perkirakan akan terjadi erupsi, sehingga pelatihan penanggulangan bencana langsung dilakukan," katanya.
Ia mengemukakan, pada 2010 gempa mulai meningakat dan gunung mulai membengkak, mulai Januari, Maret, April hingga akhirnya pada September status di naikkan menjadi "waspada" pada 20 September.
"Bahkan kondisi terus meningkat gempa sudah melampaui kondisi `awas` pada 2006, tetapi belum keluar lava. Ini aneh, kemudian dianalisis sejarah Merapi dan ini diperkirakan akan terjadi erupsi besar," paparnya.
Menurut dia, prediksi bukan sekadar memperkirakan kapan akan terjadi erupsi, tetapi tipe letusannya, karena variasinya banyak.
"Keberhasilan dalam mitigasi bencana adalah satu faktor saja, untuk mengurangi risiko bencana. Kasus 2010, meski prediksi sudah bagus, namun komunikasi kepada warga yang menjadi kendala," katanya.
(V001)