Jakarta (ANTARA) - Aktor Oka Antara mengaku senang dengan terpilihnya "Parasite" sebagai film terbaik di Academy Awards 2020, menurutnya hal ini menunjukkan bahwa film bukan hanya milik Hollywood atau dunia barat saja.

"Seneng banget sih, karena itu merepresentasikan Asian culture, bagaimana film maker Asia sudah mulai unjuk gigi dari segi penceritaan, konsep bercerita bahkan teknis pengambilan gambar," ujar Oka ditemui saat peluncuran serial "Brata" di Jakarta, Selasa.

Bagi pemain film "Aruna dan Lidahnya" ini, "Parasite" merupakan sebuah gambaran dari budaya Asia. Menurut Oka, apa yang disajikan oleh film arahan sutradara Bong Joon-ho sangat pantas mendapat Oscar karena memiliki sisi penceritaan yang berbeda.

"Menurut saya itu penting karena dari referensi film-film luar yang sudah mulai tawar menurut saya, datanglah film maker Asia yang lebih segar dari segi directing, bahkan dari akting sekalipun dan berani menggunakan bahasa ibunya, bangga dan bahkan menunjukkan kalau film bukan hanya milik film maker Hollywood dan Barat tapi film juga milik kultur seluruh dunia," kata Oka.



Pemain "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini" itu mengatakan bahwa saat ini adalah momentumnya Bong Joon-ho untuk dikenal dunia. Menurut Oka, kerja sama antara pembuat film dan produser dalam mempublikasikan "Parasite" sangat berhasil.

"Bong Joon-Ho itu dia udah bikin film bagus dari jaman "The Host", "Snowpiercer", "Memories of Murder" cuma sepertinya untuk masuk Oscar itu kan butuh publisitas. Jadi film maker dan produser dari film maker itu harus menyediakan dana dan waktu untuk mempromosikan filmnya di Oscar jadi enggak random gitu aja.

"Mereka juga harus menyediakan waktu dan uang untuk mengajak wartawan screening seperti itu kalo di Oscar. Ini hanya momentum aja. Tapi saya pikir dari semua filmnya Bong Joon-ho ini yang paling di-push untuk ke masyarakat. Makanya banyak screening-screening," lanjutnya.

Menurut Oka, Indonesia juga bisa seperti "Parasite" asalkan ada kerja sama yang bagus antara pembuat film, produser dan publisis.

"Menurut saya film maker Indonesia semua udah siap, cuma masalah mau enggak meluangkan dana, waktu untuk nge-push karyanya untuk di screeningin untuk juri-juri Oscar," jelas Oka.

Oka melanjutkan, "Film saya dulu "Sang Penari" yang punya BASE, dia naruh screening banyak sekali di Amerika supaya orang mau lihat. Jadi itu harus pakai uang kita sendiri. Bukan karena juri suka terus dia perjuangin, enggak tapi kita sendiri."
 

Pewarta : Maria Cicilia
Editor : Victorianus Sat Pranyoto
Copyright © ANTARA 2024