Lodz, Polandia (ANTARA) - Invasi Rusia ke Ukraina telah meningkatkan kewaspadaan keamanan di Eropa, dengan retorika nuklir Moskow menjadi faktor kunci yang mendorong Finlandia untuk bergabung dengan kelompok Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Finlandia Pekka Haavisto.

Invasi Rusia berarti "realitas keamanan di Eropa telah berubah," kata Haavisto dalam wawancara baru-baru ini dengan Kyodo News di sela-sela pertemuan menteri luar negeri Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa yang diadakan di Lodz, Polandia.

Ancaman nuklir Moskow telah membuat Finlandia merenungkan cara untuk merespons dan dari mana mendapatkan dukungan jika mengalami retorika semacam itu, kata Menlu Haavisto.

Finlandia berbagi perbatasan sepanjang sekitar 1.300 kilometer dengan Rusia.

Kekhawatiran tentang ancaman nuklur Rusia itu adalah salah satu alasan yang mendorong Finlandia untuk membuat perubahan bersejarah pada kebijakan keamanannya dan menerapkannya pada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), kata Haavisto.

Finlandia tetap netral sejak kehilangan sebagian wilayahnya pada Uni Soviet selama Perang Dunia II.

Namun, menyusul invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Finlandia dan Swedia sama-sama mengajukan permohonan untuk keanggotaan NATO pada Mei.

Proses pengajuan keanggotaan tersebut membutuhkan ratifikasi oleh 30 anggota aliansi itu, di mana Hongaria dan Turki adalah dua negara yang belum meratifikasi*.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menlu Finlandia: Ancaman nuklir Rusia alasan bergabung dengan NATO

Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor : Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2024