Dinkes Sleman mengoptimalkan kader jumantik cegah kasus DBD
Selasa, 26 Maret 2024 10:33 WIB
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman Khamidah Yuliati. ANTARA/Victorianus Sat Pranyoto
Sleman (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus mengoptimalkan peran kader juru pemantau jentik (jumantik) untuk mencegah penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah itu.
"Jumantik kami optimalkan dalam upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk mencegah penyebaran penyakit DBD," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati di Sleman, Selasa.
Menurut dia, jumantik yang ada di masing-masing padukuhan dan rumah tangga akan memantau dari rumah ke rumah guna memastikan lingkungan rumah tangga tidak terdapat sarang nyamuk.
"Dengan pemantauan ini diharapkan upaya pencegahan penyakit DBD di Sleman dapat lebih optimal, sehingga mampu menekan kasus DBD," katanya.
Ia mengatakan hingga mendekati akhir Maret ini di Kabupaten Sleman tercatat telah terjadi 56 kasus DBD, sehingga masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan.
"Kami imbau masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta PSN di lingkungan masing-masing," katanya.
Kepala Dinkes Kabupaten Sleman Cahya Purnama menyatakan selain penyebaran DBD, pada musim hujan ini pihaknya juga mewaspadai penyebaran penyakit leptospirosis.
"Sampai akhir Maret ini sudah ada delapan kasus leptospirosis di Sleman, dengan satu kasus meninggal dunia," katanya.
Cahya mengatakan temuan kasus leptospirosis tersebut yakni pada Januari ada dua kasus, Februari empat kasus, dan Maret terdapat dua kasus.
"Kasus leptospirosis tersebut ditemukan di Kapanewon (Kecamatan) Moyudan satu kasus, Gamping satu kasus, Tempel satu kasus, Pakem satu kasus, Cangkringan dua kasus dan Kapanewon Prambanan dua kasus," katanya.
"Jumantik kami optimalkan dalam upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk mencegah penyebaran penyakit DBD," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati di Sleman, Selasa.
Menurut dia, jumantik yang ada di masing-masing padukuhan dan rumah tangga akan memantau dari rumah ke rumah guna memastikan lingkungan rumah tangga tidak terdapat sarang nyamuk.
"Dengan pemantauan ini diharapkan upaya pencegahan penyakit DBD di Sleman dapat lebih optimal, sehingga mampu menekan kasus DBD," katanya.
Ia mengatakan hingga mendekati akhir Maret ini di Kabupaten Sleman tercatat telah terjadi 56 kasus DBD, sehingga masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan.
"Kami imbau masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta PSN di lingkungan masing-masing," katanya.
Kepala Dinkes Kabupaten Sleman Cahya Purnama menyatakan selain penyebaran DBD, pada musim hujan ini pihaknya juga mewaspadai penyebaran penyakit leptospirosis.
"Sampai akhir Maret ini sudah ada delapan kasus leptospirosis di Sleman, dengan satu kasus meninggal dunia," katanya.
Cahya mengatakan temuan kasus leptospirosis tersebut yakni pada Januari ada dua kasus, Februari empat kasus, dan Maret terdapat dua kasus.
"Kasus leptospirosis tersebut ditemukan di Kapanewon (Kecamatan) Moyudan satu kasus, Gamping satu kasus, Tempel satu kasus, Pakem satu kasus, Cangkringan dua kasus dan Kapanewon Prambanan dua kasus," katanya.
Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor : Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2026
Terpopuler - Sleman
Lihat Juga
Bupati Sleman: Hubungan industrial yang harmonis tumbuhkan kepercayaan investor
01 May 2026 15:54 WIB