
BI optimistis defisit transaksi berjalan dua persen

Jakarta (ANTARA Jogja) - Direktur Kepala Grup Neraca Pembayaran Departemen Statistik dan Moneter Bank Indonesia Doddy Zulverdi menyatakan optimistis defisit transaksi berjalan akan menurun menjadi dua persen pada akhir 2012.
"Sampai Juli, defisit transaksi berjalan membaik sesuai perkiraan kita, ekspor meningkat impor menurun sehingga defisit transaksi berjalan menyusut. Kita berharap pada bulan-bulan berikutnya akan semakin baik, sehingga perkiraan kita defisit transaksi berjalan menjadi dua persen pada akhir tahun," kata Doddy di Jakarta, Minggu.
Sebelumnya BI mencatat defisit transaksi berjalan sampai triwulan II sebesar 6,9 miliar dolar AS atau 3,1 persen dari PDB, yang sudah melewati level psikologis yang ditentukan pasar sebesar 3 persen.
Menurutnya, dari data ekspor-impor BPS Juli lalu terlihat adanya perbaikan di sisi ekspor sementara nilai impor mulai menurun.
"Ini sesuai ekspektasi kami, karena memang tidak ada impor yang besar. Jika defisit menurun menjadi dua persen, itu level yang aman untuk investor asing masuk ke negeri kita," katanya.
Data BPS menyebutkan, nilai ekspor Indonesia Juli 2012 mencapai 16,15 miliar dolar AS atau mengalami peningkatan sebesar 4,60 persen dibanding ekspor Juni 2012. Meski demikian, bila dibanding Juli 2011 mengalami penurunan sebesar
7,27 persen.
Sementara untuk tahun 2013, Doddy memperkirakan dengan kondisi perekonomian dunia yang belum membaik maka pertumbuhan ekspor Indonesia juga masih akan tertekan karena harga komoditi juga cenderung menurun.
"Sulit untuk mencapai surplus transaksi berjalan karena pertumbuhan ekonomi dunia belum membaik, jadi perkiraan defisit transaksi berjalan pada 2013 masih akan di sekitar dua persen," katanya.
Dijelaskannya, defisit transaksi berjalan pada triwulan II yang mencapai 3,1 persen disebabkan karena kinerja ekspor yang menurun di saat permintaan impor meningkat pesat.
Kendati transaksi modal dan finansial mengalami kenaikan surplus yang signifikan, jumlahnya tidak cukup untuk menutupi defisit transaksi berjalan sehingga secara keseluruhan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit sebesar 2,8 miliar miliar dolar AS.
Meski berbagai pihak menilai defisit transaksi berjalan merupakan hal yang normal dalam perekonomian sebuah negara yang sedang bertumbuh, Doddy berpendapat defisit transaksi berjalan Indonesia sudah memasuki level yang membahayakan jika terus didiamkan.
"Jika pelebaran defisit terus dibiarkan maka bisa berbahaya bagi perekonomian kita terutama pada munculnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sehingga cadangan devisa juga akan tertekan," katanya.
Doddy mengatakan, selain akan meningkatkan terhadap nilai tukar, defisit transaksi berjalan juga akan mengganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi karena tingginya investasi yang masuk diiringi peningkatan impor dan tidak diimbangi pertumbuhan ekspor.
Sebelumnya, pada Agustus Bank Indonesia dan Pemerintah, merumuskan langkah-langkah kebijakan dalam rangka mengatasi meningkatnya defisit transaksi berjalan.
Bank Indonesia akan menempuh empat langkah. Pertama, BI akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan kondisi fundamentalnya untuk mendukung penyesuaian keseimbangan eksternal tersebut.
Kedua, memperkuat operasi moneter untuk mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah dan pengendalian likuiditas. Sejalan dengan itu, sementara suku bunga BI Rate dipertahankan tetap pada tingkat 5,75 persen, koridor bawah operasi moneter dipersempit dengan menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25bps dari 3,75 persen menjadi 4,00 persen.
Ketiga, meningkatkan pendalaman pasar valas, termasuk dengan merelaksasi ketentuan terkait tenor forward dengan non residen dari yang sebelumnya minimum tiga bulan menjadi minimum satu minggu.
Keempat, kebijakan makroprudential melalui pengelolaan pertumbuhan kredit dengan memperkuat implementasi loan to value (LTV) termasuk rencana penerapan untuk industri keuangan berbasis syariah dan larangan pemanfaatan Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk uang muka kredit.
(D012)
Pewarta :
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
