
Mendikbud dan negara gagal

Surabaya (ANTARA Jogja) - Istilah "negara gagal" yang banyak dilontarkan para pengkritik pemerintah agaknya menjadi sorotan Mendikbud Mohammad Nuh.
"Cara orang teknik dan politik melihat negara gagal itu berbeda. Kalau orang teknik melihat negara gagal itu ibarat melihat perusahaan bangkrut," ujarnya.
Menteri kelahiran Gununganyar, Surabaya itu menjelaskan cara mudah mengetahui perusahaan bangkrut ada dua, yakni penghasilannya menurun terus dan banyak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada karyawannya.
"Itu cara awam yang mudah. Karena itu apakah Indonesia itu negara gagal atau tidak, saya mengajak Anda untuk melihat hasil riset 'Indonesia Today' yang dikeluarkan Mc Kenzie pada September 2012," katanya.
Ia mengemukakan hal itu di hadapan mahasiswa dan dosen Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS) saat meresmikan program Magister Terapan PENS dan memancangkan tiang pancang Gedung Magister Terapan PENS di Surabaya, 23 September lalu.
"Riset itu memposisikan Indonesia dalam '16 besar' dengan menunjuk sejumlah fakta yakni 45 juta penduduk yang memiliki daya beli yang baik," kilahnya.
Selain itu, 53 persen penduduk hidup di kota dengan kontribusi 74 persen PDB, 55 juta tenaga terampil, peluang pasar mencapai Rp0,5 triliun untuk sektor agrikultur dan pendidikan, dan seterusnya.
"Indonesia Today juga memprediksi akan terjadi perubahan signifikan pada 2030, karena Indonesia saat itu masuk 'tujuh besar' dengan peringkat tiga setelah China dan India, padahal kedua negara itu mengalami penurunan perekonomian," tuturnya.
Fakta saat itu, masyarakat Indonesia yang hidup di kota menjadi 71 persen dengan kontribusi 86 persen PDB, 135 juta penduduk memiliki daya beli yang tinggi, 113 juta tenaga terampil, dan seterusnya.
"Fakta tersebut tentu merupakan perubahan besar bagi Indonesia, karena 71 persen warganya sudah ada di kota. Artinya, desa sudah berkembang pesat menjadi kota. Kita akan menyongsongnya dengan politeknik, akademi komunitas, institut teknologi, dan seterusnya, tapi dengan tetap memelihara apa yang sudah ada," paparnya.
Mantan Rektor ITS Surabaya itu melihat fakta dari hasil riset "Indonesia Today" itu menunjukkan Indonesia bukan negara gagal, tapi kalau dipandang secara politis bisa saja sangat bertolak belakang.
"Ya, mungkin karena kita sudah lama menjadi orang miskin, makanya begitu kaya sedikit, sepertinya kita nggak percaya," ujarnya disambut tawa mahasiswa dan dosen PENS, termasuk Direktur PENS Ir Dadet Prahmadianto PhD.
(E011)
Pewarta :
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
