
Indonesia harus pertahankan peran di ASEAN
Jumat, 22 Maret 2013 20:25 WIB

Jakarta (Antara Jogja) - Indonesia harus tetap mempertahankan peran kuatnya di ASEAN yang secara alamiah menjadi pemimpin di antara 10 negara Asia Tenggara lainnya menjelang pemberlakuan Komunitas ASEAN 2015, kata akademisi Universitas Indonesia Bambang Shergi Laksmono.
Bambang, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Jumat, saat membuka acara Seminar Peluncuran Pusat Studi ASEAN FISIP UI di Depok, Jawa Barat, mengatakan bahwa seiring dengan semakin dekatnya pembentukan komunitas pada 2015, maka Indonesia harus terus menaikkan perannya ke ASEAN tanpa melupakan urusan dalam negerinya.
"Peran Indonesia tidak boleh hanya sekadar pelengkap. Ibarat masakan mi di dalam mangkuk, posisi kita merupakan mi bukan sebagai acar penghias saja," kata dia.
Artinya, lanjut dia, peran Indonesia harus semakin strategis di ASEAN, terlebih Indonesia merupakan negara terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Indonesia, kata dia, pernah menjadi penengah konflik antara Vietnam dan Kamboja. Pada tahun 1980-an, Vietnam menginvasi Kamboja hingga Indonesia ikut campur tangan melalui ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.
Selain itu, RI saat menjadi ketua ASEAN berhasil menggawangi diratifikasinya perjanjian ASEAN sebagai zona bebas nuklir SEANWFZ pada tahun 2011.
Dengan penajaman peran Indonesia di kawasan itu, menurut dia, akan dapat menunjukkan jati diri bangsa. Jangan sampai Indonesia menjadi bagsa yang selalu akomodatif atau menerima segala sesuatu dari luar, kata Bambang.
"Meski begitu, Indonesia harus menciptakan hubungan yang sehat dengan setiap negara tetangganya, seperti Malaysia dan Australia mengingat secara geografis kita tidak bisa memilih siapa yang menjadi negara tetangga," kata dia.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN dari Kementerian Luar Negeri I Gusti Agung Wesaka Puja mengatakan bahwa Indonesia harus meningkatkan peran agar Komunitas ASEAN 2015 bukan justru merugikan kepentingan Indonesia.
"Sebagai contoh adalah disetujuinya perjanjian Zona Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) yang dipandang kurang menguntungkan negara-negara Asia Tenggara. Justru yang terjadi adalah membanjirnya produk negeri Tiongkok, terutama di Indonesia," kata dia.
Direktur Eksekutif Pusat Studi ASEAN FISIP UI Edy Prasetyono mengatakan bahwa Komunitas ASEAN 2015 harus mampu memicu Indonesia maju sesuai dengan targetnya pada tahun 2030 untuk menjadi negara yang maju.
"Namun, sebuah tanda tanya besar adalah apakah Indonesia akan meninggalkan ASEAN atau tetap membawa Persatuan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara," katanya.
(A061)
Pewarta : Oleh Anom Prihantoro
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
