
Guntur: belum ada capres suarakan semangat Pancasila
Kamis, 6 Juni 2013 17:45 WIB

Jakarta (Antara Jogja) - Putra sulung proklamator Republik Indonesia Guntur Soekarnoputra menilai saat ini belum ada figur dalam bursa calon presiden yang menyuaran nilai-nilai dan semangat Pancasila pada visi dan misinya.
"Hal ini membawa keprihatinan bagi bangsa Indonesia," kata Guntur Soekarnoputra di sela kegiatan peringatan 112 tahun lahirnya proklamator Soekarno di Gedung Pola, Jalan Proklamasi, Jakarta, Kamis.
Hadir pada kesempatan tersebut antara lain, perwakilan dari Kedutaan Besar China, perwakilan Keduataan Besar India, perwakilan Kedutaan Besar Korea Utara, mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, mantan KSAD Tyasno Sudarto serta putra-putri almarhum Soekarno, yakni Guntur Soekarnoputra, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.
Menurut Guntur Soekarnoputra, apa yang terjadi saat ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang membangun sistem politik, ekonomi, dan demokrasi yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yakni musyawarah mufakat serta gotong royong.
"Kepribadian Indonesia sudah tumbuh ribuan tahun di Nusantara seperti yang diungkap dalam buku karya Mpu Prapanca," kata Ketua Umum Yayasan Bung Karno ini.
Namun, sistem politik, ekonomi, dan demokrasi yang dibangun saat ini, apalagi dengan mengamandemen UUD 1945 hingga empat kali, sehingga terjadi pergeseran kepribadian bangsa.
Salah seorang putra Bung Karno, Guruh Soekarnoputra menambahkan, pada era orde baru, ada upaya untuk membelokkan sejarah, antara lain hari lahirnya Pancasila.
Namun keluarga almarhum Bung Karno, menurut Guruh, meyakinkan bahwa lahirnya Pancasila adalah 1 Juni 1945, yakni pada saat Bung Karno menegaskan pada pemerintah Jepang, jika Indonesia merdeka maka dasar negaranya adalah Pancasila.
Pada kesempatan tersebut, Guruh juga menyitir pernyataan proklamator Moehammad Hatta yang juga menegaskan, bahwa kekuatan politik apa pun tidak dapat memimpin Indonesia, jika tidak menggunakan dasar Pancasila.
Sementara itu, Rizal Ramli, Menko Perekonomian era Presiden KH Abdurrahman Wahid, mengakui pada era orde baru banyak sejarah Bung Karno yang dibelokkan, sehingga generasi muda Indonesia saat ini tidak pernah mendapat penjelasan secara obyektif mengenai hal tersebut.
Pada kesempatan tersebut, Rizal Ramli juga menyitir kalimat Bung Karno yang menegaskan bahwa semangat Pancasila harus terus diperjuangkan, diperjuangkan, diperjuangkan.
Rizal menyatakan, sangat tertarik dengan ajaran Bung Karno yakni Trisakti yang mengajarkan bahwa Indonesia harus berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.
Pakar ekonomi ini juga tertarik pada ajaran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang mengajarkan bahwa bangsa Indonesia harus menjunjung tinggi kebhinekaan, pluralisme, dan humanisme.
"Jika cita-cita Bung Karno dan Gus Dur dipadukan serta terus diperjuangkan, diperjuangkan, dan diperjuangkan, saya optimis bangsa Indonesia akan menjadi besar dan dihormati dunia internasional," katanya.
(R024)
Pewarta : Oleh Riza Harahap
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
