Logo Header Antaranews Jogja

Pertumbuhan ekonomi dunia 2014 3,8 persen

Selasa, 30 Juli 2013 21:13 WIB
Image Print
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi yang meningkat (Foto antaranews.com)

Jakarta (Antara Jogja) - Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2014 akan meningkat hingga 3,8 persen ketimbang pertengahan 2013 yang terkoreksi turun hingga 3,1 persen.

"Tidak usah kecil hati karena nanti pada 2014, 'concencus forecast' berada di 3,8 persen. Ini menujukkan harapan baik di 2014," kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat buka bersama di Jakarta, Selasa.

Agus menyebutkan berdasarkan 20 lembaga riset internasional pertumbuhan ekonomi dunia terkoreksi menjadi 3,1 persen dari pertumbuhan sebelumnya yang berkisar 3,2-3,3 persen.

"Kalau terjadi penurunan pertumbuhan perekonomian dunia, yang perlu menjadi perhatian adalah pertumbuhan ekonomi China dan India," katanya.

Dia menyebutkan pertumbuhan ekonomi China terkoreksi dari 8,2 persen menjadi 7,5 persen, sementara pertumbuhan ekonomi India terkoreksi dari 6,1 persen menjadi 5,9 persen.

Agus mengimbau harus memperhatikan komoditas ekspor menghadapi penurunan pertumbuhan ekonomi dunia tersebut.

"Paling tidak ada delapan komoditi ekspor andalan yang merepresentasi 40 persen ekspor Indonesia," katanya.

Dia mengatakan berdasarkan laporan future market harga delapan komoditi ekspor tersebut mengalami penurunan 12 persen dan bahkan masih ada koreksi sekitar 1,7persen.

"Namun, harganya saat ini terus bergairah, terus aktif. Kita melihat nilai tukar itu sudah menuju pada ekuilibrium baru yang merupakan cerminan fundamental ekonomi Indonesia," katanya.

Terkait neraca pembayaran, Agus menjelaskan sudah terlihat masuknya dana asing ke surat berharga negara (SBN) yang menunjukkan pemulihan pertumbuhan perekonomian nasional.

"Kita menyambut baik kepercayaan diri dari pasar, meskipun dari pasar modal belum terlalu terlihat," katanya.

Terkait nilai tukar, dia menilai pergerakannya masih selaras dengan pertumbuhan di negara-negara kawasan yang juga mengalami depresiasi terhadap mata uangnya.

Agus mengakui masih ada kekhawatiran apakah ada penyesuaian kebijakan terkait stimulus moneter di Amerika Serikat.

Selain itu, dia melihat adanya konsolidasi di China karena diperkirakan perekonomiannya akan lebih rendah dan mengurangi bentuk-bentuk stimulus, seperti stimulus Leverage.

"Karena itu, kondisi komoditi ekspor Indonesia yang harganya masih turun harus menjadi perhatian karena berpengaruh kepada nilai tukar," katanya.

(J010)



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026